BANYUMAS — Pemerintah Kabupaten Banyumas menempatkan jemparingan sebagai salah satu instrumen pelestarian budaya sekaligus penguatan karakter generasi muda. Bupati Sadewo Tri Lastiono menegaskan olahraga tradisional ini tidak bisa disamakan dengan olahraga panahan modern karena di dalamnya ada unsur filosofis yang mendalam.
"Olahraga ini merupakan bentuk pelatihan untuk membentuk karakter karena selain teknik yang harus dikuasai, juga diperlukan ketenangan dan kedamaian batin," kata Bupati Sadewo saat ditemui usai membuka kegiatan.
Menurutnya, di tengah derasnya arus globalisasi, budaya lokal seperti jemparingan harus terus diperkenalkan kepada generasi muda. Ia khawatir Indonesia akan kehilangan jati diri sebagai bangsa yang kaya akan keragaman budaya jika regenerasi pegiat budaya tradisional terhenti.
Gladen Ageng Jemparingan lan Jegulan "Sadewo Cup V" tahun ini diikuti 302 peserta dari 99 paguyuban. Mereka berasal dari Madura, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jakarta, hingga Banten.
Ketua Perkumpulan Panahan Tradisional Indonesia (Perpatri) Kabupaten Banyumas, Yugo Triyono, mengatakan jumlah peserta meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan ini terjadi setelah panitia memperluas koordinasi dengan jaringan Perpatri, terutama di Jawa Barat.
Selain jemparingan, kegiatan ini juga mempertandingkan kategori jegulan yang diikuti 46 peserta tahun ini. Angka itu naik dari sekitar 28 peserta pada tahun sebelumnya.
Yugo menjelaskan jegulan memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi karena pemanah menarik busur hingga dada dan tidak bisa melihat sasaran secara langsung. "Kalau jegulan paling sulit karena benar-benar mengandalkan rasa dan konsentrasi. Sasaran tidak bisa dilihat secara langsung, sehingga memanah dilakukan dari hati," katanya.
Perpatri Banyumas mulai mengenalkan jemparingan kepada pelajar SD, SMP, dan SMA. Langkah ini dilakukan untuk mendorong regenerasi atlet dan pegiat panahan tradisional di daerah tersebut.
Bupati Sadewo berharap kegiatan yang mengusung semangat uri-uri budaya ini bisa terus digelar setiap tahun dan tetap berpusat di Kota Lama Banyumas. "Saya ingin Banyumas menjadi destinasi wisata budaya. Jadi saya pertahankan setiap tahun agenda ini tetap ada di Banyumas," ujarnya.