BANYUMAS — Hari masih pagi saat para suami berjalan beriringan menuntun istrinya yang tengah hamil memasuki aula Balai Desa Pasinggangan. Mereka bukan sekadar pendamping, melainkan peserta didik dalam kelas unik bernama Bapake-Mamake.
Program ini digagas Puskesmas Banyumas untuk mengajak para ayah berperan aktif selama masa kehamilan hingga perawatan bayi. Targetnya jelas: menekan angka stunting yang masih tinggi di desa dengan topografi luas dan akses terbatas tersebut.
Dalam kelas tersebut, para suami mendapat pelatihan praktis, mulai dari cara memijat istri saat kaki bengkak, memandikan bayi, hingga teknik membujuk istri agar rutin mengonsumsi pil penambah darah.
Aldan Niko (30), warga RT 06/RW III, mengaku baru pertama kali mengikuti kegiatan semacam ini. Pria yang baru pulang merantau dari Jakarta itu mengaku senang karena materi yang diajarkan ternyata sudah ia praktikkan di rumah.
"Seringnya mijit-mijitin istri pas kakinya bengkak, pas awal-awal hamil saya usahain jaga biar dia doyan makan, doyan minum vitamin juga," ujar Niko di sela kegiatan di Balai Desa Pasinggangan, belum lama ini.
Istrinya, Wahidah, kini tengah mengandung anak pertama dengan usia kehamilan delapan bulan. Niko mengaku sempat kesulitan saat istrinya kerap muntah setiap minum pil penambah darah. Ia lantas mencari merek lain di apotek hingga istrinya perlahan mau minum.
Kepala Puskesmas Banyumas, drg Kartikawati, mengatakan Desa Pasinggangan memiliki angka stunting yang tinggi. Kondisi topografi desa yang terbagi menjadi wilayah atas dan bawah membuat akses warga ke layanan kesehatan tidak merata.
"Kita juga lihat topografis Desa Pasinggangan ini ada daerah atas, ada daerah bawah. Jadi butuh effort luar biasa. Maka dengan kegiatan Bapake-Mamake, paling tidak bisa mengubah perilaku para suami untuk hadir langsung sebagai pendamping," urainya.
Ia menekankan, ibu hamil wajib mengonsumsi pil penambah darah setiap hari. Kekurangan darah pada ibu hamil disebut menjadi salah satu pemicu bayi lahir dengan gejala stunting.
Kelas Bapake-Mamake merupakan bagian dari penguatan Komunikasi Perubahan Perilaku (KPP) yang didukung Tanoto Foundation melalui program Stunting 2.0 bersama Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK). Pendampingan difokuskan pada masa kehamilan hingga anak berusia 0–3 tahun.
Di tingkat daerah, upaya ini juga dilindungi Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 59 Tahun 2023. Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Banyumas kemudian mendorong enam pesan kunci pencegahan stunting agar sampai langsung ke keluarga, salah satunya melalui kelas yang melibatkan peran aktif ayah.
Ketua TP PKK setempat menyoroti pentingnya kehadiran ayah selama masa kehamilan dan pengasuhan. Hal itu dinilai berpengaruh besar terhadap perkembangan emosional serta komunikasi anak ke depan.