SEMARANG — Pernyataan tersebut disampaikan Wali Kota Agustina di tengah diskusi mengenai perkembangan budaya dan harmoni sosial di Kota Semarang. Menurutnya, perjumpaan berbagai etnis dan tradisi yang telah berlangsung sejak lama menjadi modal sosial yang tak ternilai bagi kemajuan kota.
Agustina menegaskan bahwa keberagaman budaya bukan sekadar warisan, melainkan energi yang mendorong inovasi dan kolaborasi di berbagai sektor. "Kota Semarang lahir dari perjumpaan berbagai budaya yang hingga kini menjadi kekuatan utama pembangunan kota," ujarnya.
Pernyataan itu mendapat sambutan dari tokoh nasional asal Jawa Tengah, Hendardji Soepandji. Ia menilai bahwa di bawah kepemimpinan Agustina, kemajuan dan keharmonisan budaya di Kota Semarang semakin menguat.
Penguatan harmoni budaya di Semarang terlihat dari berbagai kegiatan lintas komunitas yang berjalan kondusif. Mulai dari festival budaya, pasar tradisional yang tetap lestari, hingga kerukunan antarumat beragama yang terjaga.
Menurut Hendardji, kondisi ini menjadi contoh bagaimana sebuah kota besar mampu merawat identitas budayanya di tengah arus modernisasi. Semarang dinilai berhasil menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian nilai-nilai lokal.
Dampak langsung dari penguatan budaya ini dirasakan warga dalam kehidupan sehari-hari. Rasa memiliki terhadap kota semakin tinggi, dan partisipasi masyarakat dalam kegiatan kebudayaan meningkat. Sektor pariwisata dan ekonomi kreatif juga turut terdorong, menciptakan lapangan kerja baru bagi warga lokal.
Pemkot Semarang secara konsisten mendukung kegiatan budaya lintas komunitas melalui anggaran dan fasilitas publik. Program-program seperti festival tahunan, bantuan untuk sanggar seni, dan revitalisasi kawasan bersejarah menjadi bukti komitmen tersebut. Kebijakan ini memastikan bahwa seluruh elemen masyarakat mendapat ruang yang setara untuk berekspresi.
Dengan penguatan harmoni yang terus berlangsung, Semarang berpotensi menjadi model bagi kota-kota lain di Indonesia. Keberhasilan merawat perjumpaan budaya sebagai kekuatan pembangunan bisa direplikasi di daerah dengan tingkat keragaman tinggi. Hal ini menempatkan Semarang sebagai contoh nyata bahwa keberagaman adalah aset, bukan hambatan.