SEMARANG — Pendaftaran SPMB SMP Kota Semarang tahun ajaran 2026 resmi bergulir pada 22-26 Juni 2026. Namun, di balik prosesi penerimaan murid baru, terdapat fakta pahit: daya tampung sekolah negeri hanya cukup untuk 73 persen lulusan SD.
Artinya, lebih dari 5.600 anak harus bersaing ketat untuk memperebutkan kursi yang tersedia. Sisanya, terpaksa mencari alternatif di sekolah swasta atau mungkin putus sekolah.
Dari total lulusan SD di Semarang, hanya sekitar 73 persen yang bisa diterima di SMP negeri. Angka ini menjadi indikator kesenjangan antara jumlah lulusan dengan ketersediaan ruang kelas di sekolah milik pemerintah.
Orang tua siswa mulai kebingungan. Sebagian dari mereka sudah mulai mencari informasi pendaftaran ke sekolah swasta yang biayanya kerap lebih tinggi.
Pemerintah Kota Semarang sejauh ini belum mengumumkan langkah darurat untuk menampung ribuan siswa yang tak tertampung. Beberapa opsi yang biasa ditempuh adalah membuka kelas jauh atau memperluas kerja sama dengan sekolah swasta melalui program subsidi.
Namun, hingga hari kedua pendaftaran, belum ada kepastian kebijakan tersebut. Orang tua disarankan untuk segera memantau pengumuman resmi dari Dinas Pendidikan Kota Semarang dan menyiapkan rencana cadangan.
Di beberapa kelurahan, kekhawatiran mulai meluas. "Saya sudah daftar sejak hari pertama, tapi takut tidak kebagian kuota," ujar seorang warga di Kecamatan Semarang Barat yang enggan disebut namanya.
Persoalan daya tampung ini bukan baru. Setiap tahun, ribuan anak di Semarang harus rela bersekolah di sekolah swasta dengan biaya bulanan yang memberatkan ekonomi keluarga kelas menengah ke bawah.
Pendaftaran SPMB masih berlangsung hingga 26 Juni. Orang tua diimbau untuk tidak panik dan terus mengakses informasi resmi dari laman Dinas Pendidikan Kota Semarang.