BATANG — Puluhan tokoh dari enam agama dan penghayat kepercayaan duduk berdampingan dalam satu ruangan. Mereka bergantian memimpin doa sesuai keyakinan masing-masing. Suasana khidmat menyelimuti acara doa bersama lintas agama yang digelar Polres Batang bersama Forkopimda setempat.
Wakapolres Batang Kompol Indra Hartono mengatakan kegiatan ini menjadi simbol nyata bahwa perbedaan bukan penghalang untuk bersatu. “Keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan kekuatan yang harus terus dijaga melalui semangat toleransi, saling menghormati, dan kerja sama dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang aman dan harmonis,” ujarnya.
Wakapolda Jawa Tengah Brigjen Pol. Dr. Latif Usman yang hadir secara virtual dalam kesempatan itu memberikan apresiasi tinggi kepada Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Batang. Ia menilai sinergi antara tokoh agama dan kepolisian selama ini berjalan efektif dalam menjaga kerukunan.
Brigjen Latif menegaskan bahwa rasa aman merupakan hak dasar setiap warga negara. Oleh karena itu, Polri memiliki tanggung jawab untuk memastikan masyarakat dapat menjalankan aktivitas maupun ibadah sesuai agama dan keyakinannya dengan tenang dan nyaman.
Melalui tema ‘Polri untuk Masyarakat’, Brigjen Latif menyampaikan bahwa institusi kepolisian hadir untuk seluruh elemen bangsa, bukan hanya milik internal institusi. “Kami ingin menegaskan bahwa Polri hadir untuk seluruh elemen bangsa. Polri bukan hanya milik institusi, tetapi menjadi bagian dari masyarakat yang terus berkomitmen memberikan pelayanan dan pengabdian terbaik,” jelasnya dalam sambutan virtual.
Ia menambahkan bahwa Polri akan terus berupaya menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat agar tetap kondusif di tengah dinamika keberagaman yang ada.
Doa bersama ini dihadiri oleh Wakil Bupati Batang Suyono yang mewakili Bupati Batang, Kasdim 0736/Batang Mayor Inf. Sariyono, serta perwakilan Kejaksaan Negeri dan Pengadilan Negeri Batang. Ketua FKUB Kabupaten Batang Drs. H. Subkhi juga hadir bersama perwakilan umat Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, dan Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI).
Setiap perwakilan secara bergantian memimpin doa sesuai tata cara agama dan kepercayaan masing-masing. Momen ini menjadi penutup rangkaian acara yang sarat makna kebersamaan di tengah keberagaman warga Batang.