WONOGIRI — Ribuan warga dari Dusun Dung Uwot dan sekitarnya di Desa Ngadipiro meluangkan waktu di tengah malam yang dingin untuk mengikuti tradisi tahunan yang telah mengakar. Acara yang digelar di Mushola Al Ikhlas ini dihadiri lintas generasi, mulai dari anak-anak hingga orang tua yang duduk bersila memenuhi area masjid.
Dalam tausiyahnya, Gus Tofa yang juga pengasuh Pondok Pesantren Anajah Darul Ulum Poncol, Magetan, menyampaikan pesan yang membuat jamaah terdiam. Ia menekankan bahwa tradisi Suran bukanlah sekadar warisan budaya, melainkan bisa menjadi medium memperkuat persaudaraan selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
“Mari kita nguri-uri budaya Jawa yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam, termasuk tradisi Suran. Jangan lupa mendoakan para leluhur dan cikal bakal kampung sebagai bentuk penghormatan atas jasa mereka,” kata Gus Tofa di hadapan ratusan jamaah. Banyak warga terlihat mengangguk setuju saat mendengar ajakan tersebut.
Tradisi Suran selama ini dikenal sebagai momen introspeksi dan rasa syukur yang dirayakan warga Jawa. Melalui pengajian seperti ini, panitia berharap masyarakat memahami bahwa budaya lokal bisa berjalan beriringan dengan nilai agama jika dilaksanakan secara benar. Acara ini juga menjadi ajang silaturahmi antarwarga yang jarang bertemu karena kesibukan sehari-hari.
Kegiatan tersebut turut dihadiri perangkat Desa Ngadipiro serta Kapolsek Nguntoronadi, AKP Tri Agus. Kehadiran unsur pemerintah desa dan kepolisian menjadi sinyal dukungan terhadap kegiatan masyarakat yang dinilai mampu menciptakan suasana aman dan damai. Dalam sambutannya, AKP Tri Agus mengapresiasi penyelenggaraan pengajian yang dinilai memberikan manfaat besar bagi masyarakat.
Menurutnya, kegiatan keagamaan semacam ini bukan hanya wadah meningkatkan keimanan, tetapi juga memperkuat tali silaturahmi dan menjaga keharmonisan antarwarga. Ia berharap tradisi yang mengedepankan gotong royong dan doa bersama tersebut terus lestari demi lingkungan yang rukun dan kondusif.
Sepanjang acara berlangsung, suasana tetap tertib dan penuh kekhidmatan. Ratusan jamaah bertahan hingga akhir meski udara malam terasa sangat dingin. Antusiasme ini membuktikan bahwa tradisi keagamaan yang dipadukan dengan nilai budaya masih memiliki tempat istimewa di hati warga Wonogiri, sekaligus menjadi ruang berkumpul lintas generasi yang sulit tergantikan di era digital.