KUDUS — Di balik kabar menggembirakan itu, ancaman kepunahan spesies yang kerap dijuluki Burung Garuda ini belum sepenuhnya sirna. Tim Peka Muria memperketat pemantauan aktivitas harian dan titik sarang baru di lereng pegunungan tersebut, terutama selama musim berkembang biak yang berlangsung dari Mei hingga Oktober.
Ketua Peka Muria, Teguh Budi Wiyono, mengatakan bahwa temuan ini merupakan hasil pemantauan bertahap yang dimulai sejak 2024. “Awalnya kami mencatat ada sekitar 14 ekor, sekarang ada 20-an ekor. Ada beberapa titik baru yang berhasil kami pantau keberadaannya,” ujarnya, Selasa (14/7).
Elang Jawa di Gunung Muria menunjukkan kebiasaan yang jarang ditemukan di habitat lain di Pulau Jawa. Alih-alih bertahan di hutan lebat, kawanan ini kerap terlihat terbang di tepi permukiman warga, meskipun sarang mereka berada jauh di dalam hutan.
“Beberapa kali terlihat di tepi permukiman, padahal sarangnya berada jauh di dalam hutan,” jelas Teguh. Perilaku ini menjadi perhatian khusus tim konservasi karena meningkatkan potensi interaksi dengan manusia.
Gunung Muria tidak hanya menjadi kantong populasi Elang Jawa. Kawasan ini juga menjadi benteng terakhir bagi Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas). Saat ini tercatat 14 ekor macan tutul dewasa—terdiri dari 9 betina dan 5 jantan—serta dua ekor anakan yang baru terdeteksi.
Tim Peka Muria juga menduga adanya macan kumbang, varian hitam dari macan tutul, di kawasan tersebut. “Keberadaannya masih terus diverifikasi di lapangan akibat ketatnya seleksi alam di dalam hutan,” kata Teguh.
Melalui kolaborasi dengan Djarum Foundation dan Burung Indonesia, Peka Muria mencatat total 118 jenis burung hidup di ekosistem ini. Selain Elang Jawa, delapan jenis burung predator lain turut diidentifikasi, termasuk Elang Hitam, Elang Bido, Elang Brontok, Alap-alap Jambul, Alap-alap Sapi, Elang Sikep, hingga Elang Laut yang secara tidak biasa bermigrasi mencari mangsa ke area pegunungan.
Secara nasional, populasi Elang Jawa diperkirakan hanya tersisa 300 hingga 500 ekor di seluruh Pulau Jawa dan Bali. Dengan 20 individu di Gunung Muria, kawasan ini menjadi salah satu kantong populasi paling krusial untuk dilindungi. Satwa ini umumnya bersarang pada pohon-pohon raksasa seperti jenis ficus dan pohon pranak.
Pemantauan pada 2026 difokuskan penuh pada pemetaan sarang elang selama musim berkembang biak. Upaya ini menjadi kunci untuk memastikan keberlangsungan spesies yang terancam punah tersebut di alam liar.