Pemkot Semarang Siapkan Wayang Orang Ngesti Pandowo Jadi Ikon Wisata Budaya, Pentas Rutin Digelar di TBRS

Penulis: Cahyo Wibowo  •  Senin, 20 Juli 2026 | 13:39:31 WIB
Wali Kota Semarang Agustina menghadiri peringatan HUT ke-89 Wayang Orang Ngesti Pandowo di TBRS, Sabtu (18/7/2026) malam.

SEMARANG — Komitmen itu disampaikan Agustina saat menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-89 Wayang Orang Ngesti Pandowo, Sabtu (18/7/2026) malam. Menurutnya, setiap kota wisata butuh identitas budaya yang menjadi daya tarik utama bagi wisatawan.

"Kalau melihat beberapa pusat pariwisata dunia, tentu harus ada sesuatu yang berbeda dari tiap destinasi. Kota Semarang punya wayang orang dan masyarakatnya gemar menonton wayang," kata Agustina.

Kostum Baru untuk Gantikan Busana Puluhan Tahun

Sebagai bentuk dukungan, Pemkot Semarang menyerahkan seperangkat busana wayang orang kepada Ketua Ngesti Pandowo, Joko Purnomo. Kostum ini akan digunakan dalam setiap pementasan dan menggantikan busana lama yang telah dipakai selama puluhan tahun.

Agustina menjelaskan, penggantian kostum bukan sekadar pembaruan perlengkapan. "Baju ini memang simbolis satu, tetapi kami menyiapkan banyak kostum baru untuk menggantikan busana wasiat yang selama ini digunakan para pemain. Kostum lama nantinya akan disimpan di museum agar menjadi bagian dari sejarah dan pembelajaran bagi generasi berikutnya," ujarnya.

Lima Keluarga Pendiri Terima Penghargaan

Pada kesempatan yang sama, lima keluarga pendiri Ngesti Pandowo—keturunan Ki Sastrosabdo, Ki Narto Sabdo, Ki Darso Sabdo, Ki Kusni, dan Ki Sastro Soedirdjo—menerima tanda tresna dari Wali Kota. Penghargaan itu diberikan atas jasa mereka menjaga eksistensi seni wayang orang selama hampir sembilan dekade.

Peringatan HUT ke-89 mengusung tema "Lestari Budayaku, Bersama Kita Maju, Membangun Semarang Semakin Hebat". Acara dimeriahkan pagelaran Wanito Tangguh lakon Wahyu Purbo Sejati. Agustina bersama para istri Forkopimda turut ambil bagian dalam pementasan tersebut.

TBRS Diproyeksikan Jadi Rumah Besar Kesenian

Pemkot juga telah merenovasi gedung pertunjukan di TBRS dan memperbarui sejumlah fasilitas pendukung. Program pendampingan bagi seniman disiapkan, mulai dari layanan pemeriksaan kesehatan hingga perhatian terhadap pendidikan anak-anak mereka.

TBRS ditargetkan berkembang menjadi pusat kegiatan seni yang menghadirkan berbagai pertunjukan budaya secara berkelanjutan. Tidak hanya wayang orang, tetapi juga macapat, geguritan, tari tradisional, hingga agenda budaya lain yang masuk dalam kalender event resmi Kota Semarang.

Reporter: Cahyo Wibowo
Sumber: jateng.disway.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top