KARANGANYAR — Bendungan Jlantah resmi beroperasi penuh dan mulai mengalirkan air ke ribuan hektare lahan pertanian di Kabupaten Karanganyar. Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menyebut bendungan ini sebagai infrastruktur strategis untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional.
"Swasembada pangan, swasembada energi, dan swasembada air memerlukan tata kelola air yang tertib, berkelanjutan, dan benar-benar sampai kepada rakyat. Bendungan adalah hulu dari pelayanan itu," kata Dody dalam keterangan tertulis, Selasa (21/7/2026).
Bendungan yang dibangun Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo sejak 2019 hingga 2024 ini memiliki kapasitas tampung 11,82 juta meter kubik. Luas genangannya mencapai 54,77 hektare. Selain untuk irigasi, bendungan ini juga mampu mereduksi banjir di area persawahan seluas 87 hektare.
Melalui jaringan irigasi, bendungan tersebut melayani lahan pertanian seluas 1.494 hektare. Sebanyak 806 hektare di antaranya telah terlayani melalui jaringan yang tersebar di 15 daerah irigasi (DI). Masih ada potensi pengembangan irigasi seluas 688 hektare yang tersebar di 20 DI lainnya.
Bendungan Jlantah juga menyediakan air baku sebesar 150 liter per detik. Dampaknya, cakupan layanan air minum di tiga kecamatan melonjak drastis dari sebelumnya hanya 20 persen menjadi 100 persen.
Infrastruktur ini juga mendukung kebutuhan air domestik dengan proyeksi swasembada air mencapai 71,41 persen pada 2040. Tak hanya itu, bendungan memiliki potensi pembangkit listrik sebesar 10,625 megawatt untuk mendukung swasembada energi.
Bendungan ini turut mendukung program cetak sawah melalui saluran induk Jlantah seluas 229,90 hektare. Ketersediaan air yang stabil memungkinkan petani melakukan penanaman lebih sering dalam satu tahun dibandingkan sebelumnya.
Menurut Dody, manfaat bendungan baru benar-benar dirasakan ketika air mengalir hingga lahan pertanian dan dimanfaatkan masyarakat. "Bendungan adalah hulu dari pelayanan itu," tegasnya.