SEMARANG — Upacara peringatan detik-detik Proklamasi di lingkungan kampus Islam negeri itu berlangsung khidmat. Sivitas akademika, dosen, dan tenaga kependidikan mengikuti jalannya pengibaran bendera dengan tertib. Momen ini menjadi refleksi bagi dunia pendidikan tinggi yang tengah menghadapi disrupsi teknologi, termasuk kehadiran kecerdasan buatan (AI).
Dalam sambutan tertulis yang dibacakan Rektor, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak seluruh elemen bangsa melampaui perayaan seremonial. Semangat kemerdekaan harus diwujudkan lewat aksi nyata yang berdampak pada kemajuan masyarakat.
"Kemerdekaan bukan hadiah. Ia lahir dari perjuangan, pengorbanan, darah, air mata, dan doa para pendahulu kita," demikian pesan Menag di hadapan peserta upacara.
Menag menekankan pengisian kemerdekaan menuntut peningkatan ilmu pengetahuan dan etos kerja keras. Integritas dan inovasi menjadi kata kunci agar generasi muda tidak sekadar menjadi penonton perubahan zaman.
Menteri Agama menyoroti dua hal krusial yang saling berkaitan: menjaga kerukunan dan menjunjung etika. Di tengah keberagaman masyarakat Indonesia, kerukunan dinilai sebagai perekat utama persatuan bangsa.
Isu etika menjadi sorotan khusus di era kecerdasan buatan yang kian masif. Menag mengingatkan kemajuan teknologi tidak boleh menggerus nilai-nilai kemanusiaan dan moralitas kebangsaan. Pengabdian terbaik bagi bangsa harus berpijak pada integritas, bukan sekadar mengejar hasil instan.
Peringatan HUT ke-81 RI di UIN Walisongo menjadi pengingat bahwa kampus berperan strategis mencetak generasi yang cerdas secara intelektual, kuat dalam karakter, dan berkomitmen pada kebangsaan.