SEMARANG - Indonesia menyimpan cadangan mineral melimpah — dari emas, tembaga, hingga nikel — yang menjadikan negeri ini pemain penting di sektor pertambangan global. Berikut sejumlah perusahaan tambang berskala besar yang beroperasi di Indonesia.
Beroperasi di Kabupaten Mimika, Papua, sejak dibentuk pada 1966 oleh Freeport-McMoRan asal Amerika Serikat. Tambang Grasberg yang dikelolanya dikenal sebagai salah satu tambang tembaga dan emas terbesar di dunia. Pada 2023, produksinya mencapai sekitar 1,9 juta ons emas dan 1,6 miliar pon tembaga. Sejak 2018, pemerintah Indonesia lewat PT Inalum menguasai 51,23% saham perusahaan ini.
Mengoperasikan tambang Batu Hijau di Sumbawa, NTB, salah satu tambang tembaga-emas terbesar di Indonesia. Produksi tahun 2021 tercatat sekitar 23,9 juta ons emas dan 17,54 juta pon tembaga.
PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengelola eksplorasi dan pengolahan emas, nikel, dan bauksit, termasuk Tambang Emas Pongkor di Jawa Barat yang menghasilkan sekitar 16.690 kilogram emas pada 2021. Selain itu ada PT Bumi Resources Minerals Tbk yang berfokus di Poboya, Palu, dengan izin produksi hingga 2050, serta PT Merdeka Copper Gold Tbk yang mengoperasikan tambang Tujuh Bukit di Banyuwangi dengan produksi sekitar 1 juta ons emas hingga pertengahan 2023.
Di luar pemilik konsesi, ada juga kontraktor tambang seperti PT Pama Persada Nusantara (anak usaha United Tractors) yang beroperasi di 17 lokasi di Kalimantan, Sumatera, dan Sumbawa, serta PT Thiess Contractors Indonesia yang sudah beroperasi sejak 1972 sebagai bagian dari Grup CIMIC global.
Kenapa Papua jadi lokasi tambang terbesar Indonesia?
Papua dikenal memiliki cadangan mineral, terutama tembaga dan emas, yang tergolong melimpah di dunia, sehingga menarik investasi tambang skala besar sejak puluhan tahun lalu.
Apakah semua perusahaan ini milik asing?
Tidak. Beberapa seperti Antam adalah BUMN, sementara Freeport Indonesia kini mayoritas sahamnya dikuasai pemerintah lewat Inalum sejak 2018.