JAWA TENGAH — Serangan terhadap para ahli keamanan siber memang terdengar seperti misi mustahil. Namun, seorang peretas mencoba melakukan hal itu dengan menyasar peneliti keamanan yang menghadiri konferensi peretasan Black Hat dan Def Con di Las Vegas pada awal Agustus lalu. Alih-alih menggunakan eksploitasi canggih, pelaku memakai trik sosial yang tampak meyakinkan: dokumen Google Docs palsu.
Firma keamanan siber Huntress memublikasikan temuan ini pada Rabu (14/8). Salah satu peneliti mereka menjadi sasaran dan sengaja mengikuti alur permainan pelaku untuk mempelajari modus operandinya.
Melalui platform media sosial X, sang peretas menghubungi korban lewat balasan publik dan pesan langsung. Dengan bahasa Inggris yang belum sempurna, ia menanyakan rencana korban menghadiri konferensi berikutnya, lalu menyebut sebuah acara yang diklaim diselenggarakan situs berita kripto terkemuka.
Tak lama kemudian, pelaku membagikan tautan Google Docs yang tampak seperti dokumen perencanaan konferensi palsu tersebut. Di dalamnya, ada sidebar yang dibuat seolah-olah dokumen itu dienkripsi. Korban diminta memasukkan "kunci dekripsi" palsu yang diberikan pelaku—langkah pertama menuju instalasi malware.
Yang membuat kampanye ini lebih licin dari serangan biasa adalah penggunaan fitur resmi Google. Sidebar "enkripsi" palsu itu dibuat menggunakan Google App Script, platform yang memang tersedia untuk mengembangkan menu dan panel tambahan di Google Docs.
Huntress mencatat, pelaku menyiapkan tiga jenis muatan berbahaya yang menyesuaikan sistem operasi korban. Untuk perangkat Apple, tersedia pencuri informasi (infostealer). Untuk Windows, ada tool akses jarak jauh yang disalahgunakan sebagai malware. Ada pula penginstal palsu untuk dompet kripto Ledger yang menyasar pengguna aset digital.
Profesional keamanan siber memang kerap menjadi incaran, baik oleh peretas negara dengan spyware canggih maupun kelompok peretas Korea Utara yang memakai akun Twitter palsu. Target semacam ini dipilih karena akses mereka ke sistem internal perusahaan dan pengetahuan tentang celah keamanan yang belum dipublikasikan.
Namun, serangan kali ini menarik karena memanfaatkan layanan sah Google Docs. Hal ini membuat korban yang waspada sekalipun bisa terkecoh, karena tautan yang diterima tampak berasal dari infrastruktur Google yang tepercaya.
Hingga berita ini ditulis, akun X yang diidentifikasi Huntress sebagai pelaku tidak merespons saat dihubungi. Google juga belum memberikan tanggapan saat ditanya apakah perusahaan mengetahui kampanye serangan ini atau pola serupa lainnya.
Bagi pengguna biasa di Indonesia, serangan ini menjadi pengingat bahwa dokumen berbagi (shareable document) bisa dimanipulasi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
Kampanye ini menunjukkan bahwa serangan siber tidak selalu membutuhkan eksploitasi teknis rumit. Terkadang, kombinasi platform tepercaya dan rekayasa sosial sederhana sudah cukup untuk menembus pertahanan korban yang paling siap sekalipun.