SALATIGA — Proses penempaan pusaka tidak hanya dimaknai sebagai pelestarian benda warisan leluhur, tetapi juga menjadi momentum merawat nilai dan filosofi yang terkandung di dalamnya. Wali Kota Salatiga Robby Hernawan menegaskan bahwa makna kebersamaan jauh lebih penting daripada sekadar pencapaian seremonial.
"Yang lebih penting dari sebuah rekor adalah makna kebersamaan. Pusaka tersebut diharapkan menjadi simbol manunggalnya seluruh elemen masyarakat dan pemimpin Kota Salatiga," kata Robby di sela kegiatan, Jumat.
Ketua panitia, Empu Ridwan, menyebut keris dan tombak yang ditempa tersebut merupakan wujud doa serta harapan kolektif bagi masa depan Salatiga. Prosesi ini pun dihadiri langsung oleh perwakilan warga dari berbagai lapisan, tidak hanya kalangan budayawan.
Menurut Ridwan, pelestarian pusaka adalah upaya merawat sejarah sekaligus memperkuat identitas kota. Namun, ia menambahkan bahwa kegiatan ini juga dirancang untuk mendorong denyut ekonomi masyarakat melalui sektor budaya dan ekonomi kreatif.
Pameran Karsa Nusantara Pusaka Salatiga yang mengusung tema "Menatap Sejarah, Menempa Gejolak Baru" ini tidak hanya menampilkan prosesi penempaan. Rangkaian acara turut diramaikan oleh Bursa Tosan Aji yang menghadirkan para pebursa dari berbagai daerah di Pulau Jawa.
Selain itu, panitia juga menyediakan ruang bagi pelaku usaha kecil melalui Gelar UMKM Lokal Salatiga. Langkah ini dinilai strategis untuk menggaet kunjungan masyarakat sekaligus menggerakkan transaksi ekonomi di tengah gelaran budaya.
"Kegiatan ini menjadi upaya merawat sejarah, memperkuat identitas Salatiga, sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui budaya dan ekonomi kreatif," ucap Empu Ridwan.
Wali Kota Robby menekankan bahwa menjaga pusaka bukan hanya soal merawat benda fisiknya. Lebih dari itu, pemerintah ingin memastikan pengetahuan dan kearifan lokal yang melekat pada keris dan tombak tidak hilang tergerus zaman.
Pemilihan Keris Dhapur Balebang dan Tombak dengan Lambang Cakra dinilai sarat makna filosofis bagi perjalanan Kota Salatiga ke depan. Keduanya diharapkan menjadi pengingat bagi setiap pemimpin dan warga untuk senantiasa bergotong royong dalam membangun daerah.
Pameran yang berlangsung di halaman Gedung DPRD ini menjadi salah satu agenda budaya tahunan yang dinantikan komunitas pencinta tosan aji. Antusiasme pengunjung terlihat sejak pagi, baik dari kalangan kolektor, budayawan, hingga masyarakat umum yang ingin menyaksikan prosesi langka tersebut secara langsung.