Sebanyak 14 kabupaten di Jawa Tengah masuk kategori Awas dalam peta peringatan dini kekeringan meteorologis periode 21-31 Agustus 2026. BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah mencatat peluang curah hujan rendah di bawah 50 milimeter per dasarian di seluruh wilayah provinsi ini mencapai lebih dari 90 persen. Kondisi ini diperkirakan berlangsung hingga akhir September 2026 dengan awal September dipetakan sebagai fase paling kering.
CILACAP — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Tengah mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis yang mencakup seluruh 35 kabupaten/kota di provinsi ini. Berdasarkan pemutakhiran data per 17 Agustus, status peringatan terbagi menjadi tiga kategori: Awas, Siaga, dan Waspada.
Tingkat Awas merupakan kondisi paling kritis dan disematkan kepada 14 kabupaten. Wilayah tersebut meliputi Demak, Kudus, Grobogan, Jepara, Pati, Rembang, Blora, Sragen, Karanganyar, Purworejo, Klaten, Magelang, Cilacap, dan Wonogiri.
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah Goeroeh Tjiptanto menjelaskan, status Awas menandakan hujan tidak turun minimal 61 hari berturut-turut. Dampaknya, tanah menjadi sangat kering dan sumber air berpotensi mengering total.
“Tanah menjadi sangat kering, sumber air berpotensi mengering, dan kekeringan dapat mengancam kebutuhan dasar masyarakat,” kata Goeroeh saat dihubungi dari Cilacap, Minggu.
Pada kategori ini, pemerintah daerah dan instansi terkait diminta segera mengantisipasi krisis air bersih melalui distribusi air secara rutin. Masyarakat juga diimbau memprioritaskan penggunaan air untuk minum dan memasak.
Kategori Siaga berlaku untuk 18 kabupaten/kota: Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Kebumen, Temanggung, Semarang, Boyolali, Sukoharjo, Kota Semarang, Kota Salatiga, dan Kota Magelang.
Status ini menunjukkan hujan tidak turun selama minimal 31 hari. Goeroeh menyebut sumber air seperti sumur dangkal, sungai, dan embung mulai menyusut, sehingga pengelolaan irigasi pertanian harus diperketat.
Sementara itu, status Waspada—peringatan awal ketika hujan tidak turun minimal 21 hari—diberlakukan untuk Kota Tegal, Kota Pekalongan, dan Kota Surakarta. Masyarakat di tiga kota tersebut diminta mulai menghemat air dan membatasi pemakaian untuk kebutuhan yang tidak mendesak.
Seluruh status peringatan tersebut diikuti prediksi curah hujan kurang dari 20 milimeter per dasarian dengan peluang lebih dari 70 persen. Kondisi ini meningkatkan risiko gagal panen, khususnya pada lahan tadah hujan.
“Petani dianjurkan mempertimbangkan tanaman yang lebih tahan kering dan tidak memaksakan komoditas yang membutuhkan banyak air,” ujar Goeroeh.
Risiko kebakaran juga meningkat akibat banyaknya material kering. BMKG mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar dan tidak membuang puntung rokok sembarangan.
Keterbatasan air bersih dan paparan debu berpotensi memicu sejumlah gangguan kesehatan. BMKG menyebut risiko dehidrasi, diare, penyakit kulit, dan gangguan saluran pernapasan meningkat selama periode kekeringan ini.
BMKG memprakirakan seluruh wilayah Jawa Tengah masih berada pada kriteria curah hujan rendah 0-50 milimeter per dasarian hingga akhir September 2026. Awal September dipetakan sebagai fase paling kering, sehingga kewaspadaan harus terus dijaga hingga masuk musim hujan.