SOLO – Selain angkringan dan sate kambing, Solo juga menyimpan deretan kuliner legendaris yang usianya sudah puluhan tahun dan rasanya tetap konsisten sampai sekarang.
Perpaduan unik sosis Solo, suwiran ayam, telur pindang, hati, dan ampela yang disiram kuah bening mirip sop. Salah satu menu yang jadi ciri khas Solo dan cukup dikenal di kalangan wisatawan.
Versi "steak" ala Solo ini adalah warisan era kolonial Belanda, memadukan konsep bistik dan salad — sayuran rebus, daging sapi empuk, disiram kuah manis-asam berwarna cokelat dari kecap.
Ikon kuliner Solo yang sudah ada sejak 1923. Beda dari serabi kebanyakan, Serabi Notosuman disantap langsung tanpa kuah santan, dengan rasa gurih-manis dari tepung beras, santan, gula, dan pandan.
Berdiri sejak 1939, soto ini beda dari soto ayam pada umumnya karena fokus pada olahan daging sapi empuk dengan kuah bening yang gurihnya kuat dan autentik.
Olahan tulang dan daging kambing dalam kuah rempah tipis yang gurih dan sedikit pedas — salah satu menu wajib bagi pencinta kuliner berbahan kambing di Solo.
Awalnya dijajakan berkeliling sejak 1970 sebelum akhirnya punya warung tetap pada 1986. Uniknya, sate ini terbuat dari tempe gembus, bukan daging, namun rasanya tetap jadi favorit banyak orang.
Minuman legendaris dengan biji selasih yang mengapung di atas kuah santan — jadi pelepas dahaga favorit setelah keliling mencicipi kuliner berat Solo.
Soto berkuah bening dari kaldu ayam, dipadukan soun, suwiran ayam, dan bawang goreng — jadi salah satu yang paling identik dengan kunjungan pejabat negara ke Solo.
Kedelapan kuliner ini jadi bukti bahwa cita rasa lawas Solo masih terus dicari, bahkan di tengah menjamurnya tempat makan kekinian.