Tradisi Weh-Wehan Kaliwungu Kendal, Perpaduan Rasa Syukur dan Kerukunan yang Terus Dilestarikan

Penulis: Eko Saputro  •  Senin, 24 Agustus 2026 | 19:00:01 WIB
Warga saling berbagi aneka jajanan dalam tradisi Weh-Wehan di Kaliwungu, Kendal, sebagai wujud rasa syukur dan mempererat kerukunan.

KENDAL — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kendal menegaskan komitmennya menjaga eksistensi tradisi Weh-Wehan yang menjadi warisan budaya Kecamatan Kaliwungu. Tradisi yang digelar rutin setiap bulan Maulud ini dinilai memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar aktivitas berbagi makanan.

Pamong Budaya Disdikbud Kendal, Yuhan Cahyantara, menjelaskan bahwa esensi utama tradisi ini terletak pada filosofi kata "weh" atau "weneh" dalam bahasa Jawa. Makna memberi menjadi inti dari perayaan yang berlangsung sekitar 12 Rabiul Awal tersebut.

"Dalam tradisi Weh-Wehan, masyarakat saling memberi aneka jajanan kepada tetangga dan kerabat. Ini menjadi bentuk rasa syukur dan berbagi kebahagiaan," ujar Yuhan, Senin lalu.

Makna Sosial di Balik Hantaran Makanan

Momen ini menjadi ajang warga Kaliwungu untuk mempererat tali silaturahmi. Aneka hidangan khas seperti sumpil, ketan, dan klepon disiapkan sebagai hantaran, meski kini mulai berdampingan dengan camilan modern.

Yuhan mengamini bahwa isi hantaran telah mengalami pergeseran seiring perkembangan zaman. Warga kini kerap menambahkan coklat, permen, hingga es krim dalam wadah yang dihias menarik untuk diberikan kepada sanak saudara.

Lebih dari sekadar tradisi, Weh-Wehan disebut telah melekat dalam kehidupan sosial, budaya, dan religi masyarakat setempat. Tradisi ini menjadi medium penghayatan rasa syukur kepada Tuhan sekaligus membangun harmoni antar sesama.

Generasi Muda Kunci Keberlanjutan Tradisi

Pelestarian Weh-Wehan dinilai tidak bisa berjalan sendiri tanpa keterlibatan generasi penerus. Anak-anak dan kaum muda perlu dikenalkan secara langsung dengan nilai-nilai positif yang terkandung dalam tradisi ini.

"Tradisi Weh-Wehan perlu dilestarikan kepada generasi muda karena penuh dengan nilai-nilai positif. Mengajarkan kita untuk selalu bersyukur atas rezeki yang diberikan dan mau berbagi kepada sesama," tandas Yuhan.

Pihaknya berharap tradisi ini tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Kaliwungu dan terus diwariskan secara turun-temurun. "Kita harus tetap menjaga dan melestarikan tradisi budaya ini sebagai identitas budaya yang ada di Kaliwungu," pungkasnya.

Reporter: Eko Saputro
Sumber: beritajateng.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top