SEMARANG — Ahmad Luthfi menegaskan pergantian kepengurusan MUI Jateng bukan sekadar perubahan personel. Momentum ini menjadi penanda keberlanjutan pengabdian ulama di tengah tantangan masyarakat yang semakin kompleks, mulai dari persoalan sosial hingga stabilitas daerah.
Menurut Luthfi, pemerintah tidak mungkin membangun Jawa Tengah seorang diri. Pembangunan membutuhkan kolaborasi lintas elemen, termasuk organisasi kemasyarakatan, ulama, perguruan tinggi, pelaku ekonomi, hingga media.
Luthfi menyebut MUI adalah partner collaborative government dalam menjaga situasi tetap aman dan guyub. Ia menekankan bahwa ketenteraman sosial menjadi syarat utama terciptanya kesejahteraan masyarakat.
“MUI adalah partner collaborative government dalam rangka menjadi cooling system permasalahan-permasalahan di wilayah kita, sehingga tercipta situasi aman sebagai syarat kesejahteraan masyarakat,” kata Luthfi seusai acara pengukuhan.
Ia mengapresiasi langkah MUI Jateng yang telah membangun jejaring kerja sama dengan berbagai pihak. Kerja sama itu mencakup perguruan tinggi, Masyarakat Ekonomi Syariah, Bank Jateng Syariah, dan media massa.
Ketua Umum MUI Pusat M Anwar Iskandar menegaskan MUI memiliki dua peran utama, yaitu pelayan umat sekaligus mitra pemerintah. Menurutnya, tantangan bangsa ke depan membutuhkan kerja bersama antara ulama dan umaro.
“Bagaimana mewujudkan sinergitas bersama untuk menjaga NKRI dengan baik, menyejahterakan masyarakat, dan menjaga agama supaya baik. Hubungan ini tercermin baik di Jawa Tengah,” ujar Anwar.
Anwar juga mendorong MUI Jateng dan lingkungan pondok pesantren meningkatkan kaderisasi ulama perempuan. Jawa Tengah dinilai memiliki potensi besar untuk melahirkan lebih banyak ulama perempuan yang berkiprah di organisasi maupun kehidupan keumatan.
Ketua Umum MUI Jateng Noor Achmad menegaskan kepengurusan periode 2026-2031 akan memperkuat kolaborasi dengan seluruh elemen masyarakat. Sinergi dengan Pemprov Jateng terus dilakukan melalui program pemberdayaan ekonomi umat dan penguatan syiar keagamaan.
“Kami mencoba untuk bersama Gubernur, bagaimana membangkitkan ekonomi umat terutama ekonomi masyarakat Islam. Sudah ada kerja sama dengan masyarakat ekonomi syariah, rektor, dan media massa,” kata Noor.
Menurut Noor, pengembangan ekonomi umat membutuhkan jejaring dan kolaborasi lintas sektor. MUI Jateng akan terus membuka ruang kerja sama dengan berbagai pihak untuk memperkuat potensi ekonomi masyarakat.
Dengan kepengurusan baru ini, MUI Jateng diharapkan tidak berhenti pada fungsi keagamaan. Organisasi ini juga didorong hadir sebagai jembatan antara kepentingan umat, pemerintah, dunia pendidikan, sektor ekonomi, dan masyarakat luas.
Kolaborasi tersebut menjadi penting agar nilai-nilai keagamaan tidak hanya berhenti di ruang dakwah. Nilai itu harus diterjemahkan menjadi kekuatan sosial untuk menjaga persatuan, meredam persoalan di tengah masyarakat, dan mendorong kesejahteraan.
Semangat ini sejalan dengan harapan Pemprov Jateng agar ulama dan pemerintah berjalan bersama. Tujuannya menciptakan Jawa Tengah yang aman, guyub, harmonis, serta memiliki ketahanan ekonomi masyarakat yang semakin kuat.