Mengenal Sekaten di Yogyakarta: Perpaduan Dakwah Wali Songo, Gamelan Pusaka, dan Ritual Maulid yang Bertahan Ratusan Tahun

Penulis: Budi Santoso  •  Selasa, 25 Agustus 2026 | 15:01:01 WIB
Keraton Yogyakarta mengeluarkan dua gamelan pusaka, Kiai Gunturmadu dan Kiai Nagawilaga, dalam prosesi Miyos Gangsa untuk memulai rangkaian Sekaten.

YOGYAKARTA — Di balik keramaian pasar malam yang biasa menyertai perayaannya, Sekaten menyimpan sejarah panjang akulturasi Islam dan budaya Jawa yang telah berlangsung ratusan tahun. Tradisi tahunan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW ini diyakini bermula dari masa Kerajaan Demak dan menjadi strategi dakwah para Wali Songo.

Alih-alih menyebarkan agama dengan paksaan, para wali justru menggunakan pendekatan budaya. Gamelan menjadi medium utama untuk menarik masyarakat mendekat ke masjid, tempat dakwah dan ajaran Islam kemudian disampaikan. Cara ini menunjukkan proses Islamisasi di Jawa berlangsung melalui dialog dengan budaya setempat, bukan dengan menghilangkan tradisi yang telah hidup di tengah masyarakat.

Asal-Usul Nama Sekaten: Antara Gamelan Sekati dan Syahadatain

Terdapat dua pendapat yang berkembang mengenai asal-usul nama Sekaten. Pendapat pertama menyebut kata ini berasal dari "sekati", yakni nama seperangkat gamelan yang digunakan dalam rangkaian upacara. Sementara pendapat lain mengaitkannya dengan kata "syahadatain", dua kalimat syahadat yang menjadi pilar penting ajaran Islam.

Terlepas dari perbedaan tersebut, Sekaten memiliki kaitan erat dengan proses penyebaran Islam di Jawa. Tradisi dan kesenian yang telah akrab dengan kehidupan masyarakat tidak serta-merta dihilangkan, tetapi digunakan sebagai sarana menyampaikan nilai-nilai baru.

Dua Gamelan Pusaka: Kiai Gunturmadu dan Kiai Nagawilaga

Dalam pelaksanaan Sekaten di Yogyakarta, dua gamelan pusaka menjadi bagian penting dari tradisi ini: Kiai Gunturmadu dan Kiai Nagawilaga. Kiai Gunturmadu merupakan gamelan yang diwariskan dari Kerajaan Mataram, sedangkan Kiai Nagawilaga adalah duplikasi dari Kiai Guntursari milik Kasunanan Surakarta.

Pembagian gamelan ini berakar dari Perjanjian Giyanti pada 1755 yang membagi Kerajaan Mataram menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Kiai Guntursari diberikan kepada Kasunanan Surakarta, sementara Kiai Gunturmadu menjadi bagian dari Kasultanan Yogyakarta. Untuk melengkapi seperangkat gamelan Sekaten, Keraton Yogyakarta kemudian membuat duplikasi yang diberi nama Kiai Nagawilaga.

Miyos Gangsa: Prosesi Sakral Sebelum Gamelan Ditabuh

Rangkaian Sekaten diawali dengan Miyos Gangsa, prosesi keluarnya gamelan dari tempat penyimpanannya di dalam Keraton. Kedua gamelan pusaka terlebih dahulu dibawa menuju Bangsal Pancaniti untuk ditabuh oleh Abdi Dalem Kridha Mardawa. Sebelum bertugas, para abdi dalem melakukan tradisi bersuci secara lahir dan batin sebagai bagian dari persiapan menjalankan tugas sakral.

Gamelan kemudian dimainkan dengan sejumlah gendhing, di antaranya gendhing rambu, gendhing rangkung, dan gendhing andong-andong atau lunggadung. Saat gamelan ditabuh, Sultan mengirimkan utusan untuk menyebarkan udhik-udhik berupa biji-bijian dan uang logam kepada penabuh serta masyarakat yang hadir. Tradisi ini menjadi simbol sedekah sekaligus doa keselamatan dan kesejahteraan dari raja kepada rakyatnya.

Tujuh Hari Gamelan Sekaten Berbunyi di Masjid Gedhe

Setelah ditabuh hingga malam, kedua gamelan dibawa menuju Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Kiai Gunturmadu ditempatkan di Pagongan Kidul, sedangkan Kiai Nagawilaga berada di Pagongan Lor. Selama rangkaian Sekaten, gamelan dimainkan tiga kali sehari, yakni pagi, siang, dan malam. Namun, ada waktu tertentu ketika gamelan tidak dimainkan, yakni mulai Kamis petang hingga selepas salat Jumat.

Bagi masyarakat, bunyi gamelan Sekaten menjadi penanda paling khas dari tradisi ini. Suara gamelan pusaka tersebut bukan sekadar pertunjukan musik, melainkan bagian dari ritual yang diwariskan lintas generasi.

Numplak Wajik: Penanda Awal Pembuatan Gunungan untuk Garebeg Mulud

Rangkaian Sekaten berlanjut dengan upacara Numplak Wajik yang menjadi penanda dimulainya pembuatan Gunungan Wadon atau Gunungan Putri untuk Garebeg Mulud. Prosesi ini dilaksanakan di Panti Pareden, kawasan Kamagangan Keraton, dengan wajik berbahan beras ketan dan gula kelapa sebagai unsur penting. Lesung dan alu digunakan dalam prosesi ini, dan bunyi tumbukan dengan irama tertentu menjadi bagian khas dari Numplak Wajik.

Reporter: Budi Santoso
Sumber: inibaru.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top