PEKALONGAN — Tradisi adat Mlampah Tapa Meneng atau napak tilas perdana digelar warga Desa Kayugeritan, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan pada Jumat malam, 28 Agustus 2026. Kegiatan ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum untuk nguri-uri kebudayaan sekaligus menjaga kelestarian sumber mata air desa.
Prosesi dimulai dengan apel persiapan di kompleks Balai Desa Kayugeritan sekitar pukul 22.30 WIB. Puluhan peserta yang berasal dari Kajen, Doro, Wonopringgo, Wiradesa, hingga Kedungwuni mendapat pembekalan tata tertib sebelum berangkat.
Seluruh peserta mengenakan pakaian adat Jawa lengkap dengan kain jarik. Mereka berjalan kaki dari Balai Desa menuju area Makam Keramat Kayugeritan yang meliputi Makam Teposono, Angfusono, Kodisono, dan Pas Pengeluatan.
Yang menarik, selama perjalanan peserta diwajibkan tidak berbicara sama sekali. Tapa meneng ini dimaknai sebagai simbol perenungan diri sekaligus bentuk penghormatan tertinggi kepada para leluhur yang telah berjuang membangun desa.
Setibanya di lokasi makam, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan tahlil dan doa bersama. Doa dipanjatkan untuk memohon keselamatan serta keberkahan bagi seluruh masyarakat Kayugeritan. Acara kemudian ditutup dengan sarasehan.
Kepala Desa Kayugeritan, Mulyatno yang memimpin langsung jalannya prosesi mengatakan tradisi ini diharapkan menjadi pengingat bagi generasi muda agar tidak melupakan sejarah. Ia juga menyelipkan pesan penting tentang pelestarian lingkungan.
“Saya mengajak masyarakat untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan dan merawat sumber-sumber mata air agar bisa terus dimanfaatkan oleh seluruh warga hingga generasi penerus,” jelasnya.
Penanggung Jawab Kegiatan Adat, Mohammad Hadi Yusuf menambahkan bahwa Mlampah Tapa Meneng memiliki dimensi historis yang kuat. Tradisi ini menjadi sarana mengenang perjuangan para pendahulu yang telah berkorban demi kemerdekaan Indonesia.
“Jangan lupakan jasa para pahlawan. Kita saat ini menikmati hasil jerih payah dari para pendahulu kita yang berjuang dan berkorban jiwa raga untuk kita,” ujar Hadi.
Antusiasme terpancar dari para peserta yang mengikuti prosesi tanpa membawa atribut organisasi maupun instansi. Seluruh elemen masyarakat melebur dalam satu kegiatan adat yang sama.
Salah seorang peserta, Muhammad Maizun Sufa Salbaya menilai tradisi ini memiliki nilai filosofis yang dalam. Menurutnya, ritual berjalan tanpa suara mengajarkan pengendalian diri sekaligus menyatukan manusia dengan alam.
“Ritual berjalan tanpa suara ini sangat luar biasa manfaatnya untuk menahan nafsu, mencerdaskan pikiran, dan menyatukan diri dengan alam. Acara ini bukan untuk gengsi-gengsian, melainkan ajakan untuk kembali ke jati diri Nusantara,” ungkap Maizun.