JAWA TENGAH — Masyarakat di pesisir Selat Sunda hingga kawasan Jabodetabek kini bisa memantau langsung kualitas udara di sekitarnya melalui ponsel. IQAir AirVisual, aplikasi pemantau udara yang dikembangkan perusahaan teknologi asal Swiss, menyajikan data indeks kualitas udara (AQI) secara real-time yang bersumber dari stasiun pemantauan di berbagai wilayah Indonesia.
Keberadaan aplikasi ini menjadi relevan menyusul aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang menghasilkan abu vulkanik, serta potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap melanda sejumlah provinsi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebaran abu di atmosfer dapat bergerak menuju Banten, Lampung, Jawa Barat, hingga Jabodetabek tergantung arah dan kecepatan angin.
IQAir AirVisual menampilkan skor AQI pada halaman utama setelah pengguna memberikan izin akses lokasi. Semakin tinggi angka yang tertera, semakin buruk kualitas udara di titik tersebut. Pengguna dapat mengetuk layar untuk membuka data detail konsentrasi PM2.5 dan PM10, dua ukuran partikulat yang menjadi indikator utama polusi.
PM2.5 adalah partikel berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang mampu menembus saluran pernapasan hingga ke paru-paru. Sementara PM10 mencakup partikel lebih besar seperti debu dan material sisa pembakaran. Data ini penting karena kualitas udara bisa berbeda antarlokasi dalam satu kota, sehingga pengguna disarankan merujuk pada stasiun pemantauan yang paling dekat dengan posisinya.
Aplikasi ini tersedia gratis di Google Play Store dan App Store. Setelah proses unduh, pengguna cukup mengaktifkan izin lokasi untuk melihat kondisi udara sekitar. IQAir AirVisual juga menyediakan prakiraan kualitas udara untuk beberapa jam hingga hari ke depan.
Fitur tambahan lokasi memungkinkan pengguna membandingkan kondisi beberapa daerah sekaligus, misalnya untuk merencanakan perjalanan atau menentukan rute yang lebih aman. Notifikasi perubahan kualitas udara dapat diaktifkan agar peringatan muncul otomatis ketika kondisi memburuk secara signifikan.
Perlu dicatat bahwa peningkatan konsentrasi PM2.5 atau PM10 di aplikasi tidak otomatis disebabkan oleh abu vulkanik Anak Krakatau atau karhutla. Partikulat di udara juga dapat berasal dari emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, debu konstruksi, dan sumber pencemaran perkotaan lainnya.
Untuk memastikan penyebabnya, masyarakat dapat membandingkan data IQAir dengan pemantauan resmi BMKG. Lembaga pemerintah itu menyediakan data PM2.5 secara near real-time dari berbagai wilayah Indonesia, informasi prediksi partikulat kabut asap, hotspot, serta potensi karhutla melalui kanal resminya.
BMKG juga mengoperasikan Citra Sebaran Abu Vulkanik berbasis satelit yang menampilkan pergerakan abu di atmosfer. Kombinasi data dari aplikasi pihak ketiga dan lembaga resmi ini memberikan gambaran lebih utuh tentang kondisi udara sebelum masyarakat memutuskan beraktivitas di luar rumah.