Bukan Cuma MPG, Ini Cara EPA Mengukur Emisi Gas Rumah Kaca Mobil

Penulis: Cahyo Wibowo  •  Senin, 07 September 2026 | 18:52:31 WIB
Stiker efisiensi bahan bakar pada mobil baru di Amerika Serikat menampilkan angka MPG dan peringkat emisi gas rumah kaca.

JAWA TENGAH — Ketika membeli mobil baru di Amerika Serikat, stiker di kaca jendela menampilkan dua angka penting: MPG dan peringkat emisi gas rumah kaca (GGE). EPA mengukur keduanya lewat metode yang disebut carbon balance method, yang mengasumsikan karbon yang terbakar berbanding lurus dengan bahan bakar yang dikonsumsi. Dengan menangkap emisi dari knalpot, lembaga ini bisa menghitung volume bahan bakar yang terbakar dan jumlah karbon yang dihasilkan sekaligus.

Skala 1-10 yang Sering Salah Dibaca

Stiker mobil model 2026 seperti Kia Telluride menampilkan skala efisiensi 1 hingga 10. Peringkat 6 berarti mobil mengeluarkan 266-323 gram CO2 per mil. Peringkat terburuk, angka 1, berarti mobil memuntahkan setidaknya 659 gram CO2 per mil — angka yang sangat jauh dari mobil listrik murni yang duduk di peringkat 10 dengan emisi 0-74 gram per mil.

Masalahnya, skala ini tidak intuitif. Angka 659 gram memang jauh lebih besar dari 74 gram, tapi tidak semua pembeli paham bahwa selisih itu berarti hampir sembilan kali lipat polusi. EPA sendiri tidak mengetes setiap mobil setiap tahun — hanya sekitar 10-15 persen model yang diuji langsung, sisanya diserahkan ke pabrikan dengan metodologi yang sama.

Kenapa Hasil Lab Lebih Akurat daripada Jalan Raya

Pengujian EPA dilakukan di atas treadmill otomotif yang bisa mensimulasikan hambatan angin dan gesekan jalan. Ini berbeda dengan tes di jalan raya yang hasilnya bisa kacau karena variabel angin dan suhu yang tidak terkontrol. Lembaga ini bahkan membuktikan metodenya dengan mengevaluasi Mercury Montego 1976.

Prosedur pengujian terdiri dari lima bagian. Tiga di antaranya ditambahkan mulai model tahun 2008 setelah keluhan konsumen bahwa angka EPA terlalu tinggi. Siklus lama mencakup kecepatan kota 21,2 mph dan jalan tol 48,3 mph. Siklus baru menambahkan tes kecepatan tinggi hingga 80 mph, simulasi pemakaian AC dengan suhu ruangan 95 derajat Fahrenheit, dan siklus kota cuaca dingin di ruangan bersuhu 20 derajat.

Bahan bakar yang dipakai juga diformulasikan khusus agar setiap mobil membakar campuran yang hampir identik. Ini penting karena kemurnian bensin mempengaruhi efisiensi mesin dan hasil emisi.

Rumus MPG yang Menyesatkan Secara Matematis

Kritik terbesar terhadap sistem EPA justru datang dari akademisi. Peneliti Duke University berargumen bahwa sistem liter per 100 kilometer yang dipakai Uni Eropa jauh lebih cerdas daripada MPG. Contohnya: peningkatan dari 16,5 MPG ke 20 MPG adalah kenaikan 20 persen, sama persis dengan peningkatan dari 33 MPG ke 50 MPG. Tapi kedua "peningkatan" itu hanya mengurangi 100 galon pemakaian per 10.000 mil.

Dengan sistem liter per 100 km, pembeli langsung paham bahwa mobil yang menghabiskan 6 galon per 100 mil mengeluarkan biaya dua kali lipat dibanding mobil yang hanya butuh 3 galon — berapapun harga bensinnya. Emisi gas rumah kacanya juga dua kali lipat.

EPA tidak perlu mengubah metode pengujiannya. Yang perlu diubah hanyalah cara menyajikan angka kepada publik. Selama masih pakai MPG dan skala 1-10 yang membingungkan, hubungan antara konsumsi bahan bakar dan emisi karbon akan tetap sulit dipahami konsumen awam.

Reporter: Cahyo Wibowo
Sumber: jalopnik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top