GOTO Berpotensi Terjun ke Rp 20 Usai Aturan Harga Minimum BEI Turun ke Rp 1, Antrean Jual 400 Juta Lot

Penulis: Budi Santoso  •  Rabu, 09 September 2026 | 12:50:01 WIB
Analis memperkirakan saham GOTO berpotensi turun ke Rp 20-Rp 30 setelah batas bawah harga Rp 50 dicabut.

JAWA TENGAH — Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memperkirakan saham GOTO berpotensi menyentuh level Rp 20-Rp 30 setelah batas bawah Rp 50 dicabut. Dalam skenario tekanan jual yang lebih agresif, harga saham emiten teknologi ini bahkan berpeluang turun hingga rentang Rp 10-Rp 20.

“Rekomendasi GOTO menurut saya adalah NOT RATED,” kata Nafan kepada Katadata.co.id, Rabu (9/9).

Harga GOTO Sudah Tidur di Level Gocap Selama Empat Bulan

Harga saham GOTO telah berada di level terendah bursa, yakni Rp 50, sejak 5 Mei 2026. Kebijakan penurunan batas minimum harga saham ini dirancang BEI untuk mengembalikan likuiditas perdagangan saham-saham berharga gocap, termasuk GOTO.

Nafan menjelaskan, pencabutan batas bawah berpotensi memicu volatilitas dan tekanan jual dalam jangka pendek. Meski demikian, pergerakan selanjutnya akan ditentukan oleh keseimbangan pasokan dan permintaan, likuiditas, serta aksi investor besar.

Dia juga menyoroti transaksi di pasar negosiasi yang menunjukkan saham GOTO telah berpindah tangan di kisaran Rp 23-Rp 25 per saham. Level tersebut, menurut Nafan, dapat menjadi referensi dalam proses penemuan harga (price discovery) ketika batas Rp 50 resmi dicabut.

Floating Loss Telkomsel Bisa Tembus Rp 5,9 Triliun

Penurunan harga GOTO di bawah level gocap berpotensi memperlebar kerugian mark-to-market bagi pemegang saham besar. Telkomsel, misalnya, menggenggam sekitar 23,72 miliar saham GOTO dengan harga perolehan sekitar Rp 270 per saham.

Pada harga GOTO Rp 50, potensi kerugian yang belum terealisasi mencapai sekitar Rp 5,22 triliun. Angka ini membengkak menjadi Rp 5,81 triliun jika harga turun ke Rp 25, dan mencapai Rp 5,93 triliun apabila saham GOTO jatuh ke level Rp 20.

“Untuk floating loss, perlu dibedakan antara kerugian ekonomis dan kerugian yang benar-benar terealisasi,” ujar Nafan. “Angka tersebut adalah estimasi berdasarkan harga perolehan dan jumlah saham yang dilaporkan, bukan berarti seluruhnya langsung menjadi kerugian terealisasi.”

Ia menambahkan, perhitungan floating loss tidak bisa disamaratakan untuk semua investor institusi. Morgan Stanley yang tercatat menggenggam 54,43 miliar saham GOTO melakukan pembelian secara bertahap, termasuk transaksi terbaru di kisaran Rp 25 per saham, sehingga harga perolehannya berbeda.

Antrean Jual Capai 400 Juta Lot, Overhang Supply Masih Menghantui

Tekanan jual terhadap saham GOTO terlihat nyata dari data perdagangan BEI secara intraday pada pukul 11.26 WIB. Total antrean jual mencapai sekitar 400,46 juta lot, menunjukkan persoalan overhang supply masih membayangi pergerakan saham ini.

Nafan menilai, penerapan batas minimum Rp 1 memang akan meningkatkan tekanan jual karena pemegang saham yang sebelumnya tertahan di level Rp 50 kini punya ruang untuk keluar. Namun di sisi lain, kebijakan ini membuka peluang terbentuknya harga GOTO yang lebih mencerminkan kondisi pasar, sehingga investor institusi dan strategis dapat menentukan valuasi secara lebih rasional.

Di tengah tekanan harga, fundamental perseroan masih menjadi perhatian. GOTO membukukan laba bersih Rp 608 miliar pada semester pertama 2026, tetapi prospek EBITDA sepanjang tahun masih menghadapi tekanan sehingga manajemen melakukan penyesuaian terhadap guidance kinerja.

Adapun BEI menunda penerapan kebijakan penurunan batas minimum harga saham tersebut. Otoritas bursa masih menunggu kesiapan delapan anggota bursa lainnya sebelum aturan dapat diterapkan secara penuh, setelah 83 anggota bursa dinyatakan siap.

Reporter: Budi Santoso
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top