Gubernur Ahmad Luthfi Sebut MTQ Nasional XXXI di Semarang Milik Semua Masyarakat, Bukan Hanya Umat Islam

Penulis: Deni Kurniawan  •  Selasa, 15 September 2026 | 05:31:02 WIB
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebut MTQ Nasional XXXI di Semarang sebagai ruang bersama untuk memperkuat toleransi dan persatuan masyarakat.

SEMARANG — Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebut MTQ Nasional XXXI telah menjadi ruang bersama untuk memperkuat toleransi dan persatuan masyarakat. Menurutnya, keterlibatan warga dari berbagai latar belakang dalam rangkaian kegiatan itu menunjukkan makna MTQ lebih luas daripada sekadar perlombaan membaca, menghafal, atau memahami Al-Qur'an.

Ia mencontohkan keterlibatan pelajar dari SMA Kristen dalam penyanyian Mars MTQ yang sebelumnya mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

"Artinya apa? Musabaqah Tilawatil Quran milik semua masyarakat dan inilah bentuk rahmatan lil alamin, ada toleransi beragama sangat dijunjung sekali, semuanya bersatu," ujar Luthfi.

Semangat Kebersamaan dan Pesan Perdamaian dari Jawa Tengah

Luthfi berharap semangat kebersamaan selama penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI terus berkembang. Ia ingin perhelatan itu membawa pesan perdamaian dari Jawa Tengah ke seluruh Indonesia.

"Semoga dengan adanya MTQ yang ke-31 Jawa Tengah memberikan syiar perdamaian dari Jawa Tengah kepada seluruh Indonesia," katanya.

Semangat yang sama terlihat dari keterlibatan Universitas Diponegoro sebagai salah satu lokasi penyelenggaraan lomba. Rektor Undip Suharnomo menyatakan pihaknya bersyukur mendapat kepercayaan menjadi salah satu venue perhelatan nasional tersebut.

"Kami sangat terima kasih diberi kepercayaan oleh Pak Gubernur untuk menjadi salah satu venue MTQ nasional. Kami sangat bangga dan sangat support sebisa-bisanya, sebagus-bagusnya untuk kesuksesan MTQ yang ada di Jawa Tengah," tutur Suharnomo.

380 Peserta Kaligrafi dari 38 Provinsi Berlomba di Undip

Salah satu cabang yang digelar di Undip adalah kaligrafi. Direktur Lembaga Kaligrafi Al Quran (Lemka) KH Didin Sirojuddin AR menyebut lomba kaligrafi MTQ Nasional XXXI diikuti sekitar 380 peserta.

Setiap provinsi mengirimkan peserta untuk mengikuti lima golongan yang masing-masing terbagi dalam kategori putra dan putri.

"Jadi masing-masing provinsi itu mengirimkan 10. Karena lomba ini terdiri dari lima golongan putra dan putri. Jadi, jumlah keseluruhan itu ya 380, lebih kurang sedikit ya," jelas Didin.

Lima Golongan yang Diperlombakan, dari Naskah hingga Digital

Lima golongan yang diperlombakan yakni naskah, hiasan mushaf, dekorasi, kontemporer, dan digital. Golongan naskah menampilkan tulisan hitam putih, sementara hiasan mushaf mengambil bentuk halaman awal Surat Al-Fatihah dan Al-Baqarah.

Golongan dekorasi lebih menonjolkan unsur aksesoris untuk interior maupun eksterior. Kaligrafi kontemporer memberi ruang bagi peserta menggunakan gaya baru yang tidak lagi sepenuhnya terikat pada kaidah tulisan lama. Golongan digital menjadi perkembangan terbaru, dengan peserta menghasilkan tulisan dan lukisan kaligrafi menggunakan komputer.

Kaidah Huruf Bobot 60 Persen, Hiasan 40 Persen

Didin menjelaskan keindahan visual bukan satu-satunya aspek penilaian. Ketepatan kaidah penulisan huruf tetap menjadi penentu utama.

Terdapat tiga aspek utama yang dinilai, yakni kebenaran kaidah huruf, keindahan huruf, dan keindahan hiasan.

"Yang pertama, kebenaran kaidah huruf. Yang kedua, keindahan huruf. Dan yang ketiga, keindahan hiasan. Tapi kalau dijumlah, huruf itu mendapatkan porsi penilaian 60% maksimal. Sedangkan hiasan 40. Itu berarti huruf itu lebih diutamakan daripada hiasan," paparnya.

Karya Ditulis Langsung, Beda dengan Lomba Kaligrafi Internasional

Menurut Didin, salah satu karakteristik lomba kaligrafi MTQ Nasional adalah karya dibuat langsung oleh peserta. Hal itu berbeda dengan sejumlah kompetisi kaligrafi internasional yang memberi waktu pengerjaan berbulan-bulan sebelum karya dikirim ke panitia.

"Jadi karya-karya yang ditampilkan itu memang secara direct dilakukan dan ditulis. Ini berbeda dengan lomba-lomba kaligrafi internasional yang jumlahnya ada 20. Mereka itu mengirimkan karya dalam jangka 4 bulan, 6 bulan, bahkan ada yang 1 tahun sekali. Tapi hanya di Indonesia lomba kaligrafi itu langsung," ungkapnya.

Semarang Kembali Jadi Tuan Rumah setelah 47 Tahun

Didin melihat penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI di Semarang punya kaitan dengan sejarah perkembangan seni Islam di kota itu. Ia menyebut Semarang pernah menjadi lokasi MTQ XI pada 1979, yang kala itu menjadi momentum pertama digelarnya pameran seni lukis Islami dalam rangkaian MTQ.

Kini, 47 tahun kemudian, Semarang kembali menjadi bagian dari sejarah tersebut dengan penyelenggaraan pameran kaligrafi internasional dalam rangkaian MTQ Nasional XXXI.

"Tadi saya bilang Pak Gubernur, niatkan bahwa tahun 79 itu lah pertama kali diadakan pameran seni lukis Islami di MTQ ke-11 tahun 1979 di Semarang. Nah, 47 tahun kemudian sampai sekarang, kita ngadain lagi pameran, pameran kaligrafi internasional di mall," ujarnya.

Reporter: Deni Kurniawan
Sumber: indoraya.news This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top