Tatiana Huezo Jadi Guest of Honor IDFA 2026, Retrospective Digelar di Amsterdam

Penulis: Cahyo Wibowo  •  Selasa, 15 September 2026 | 20:49:01 WIB
Tatiana Huezo ditetapkan sebagai tamu kehormatan IDFA 2026 di Amsterdam.

JAWA TENGAH — IDFA, festival film dokumenter terbesar di dunia, mengumumkan Huezo sebagai tamu kehormatan 2026 melalui rilis resmi festival. Direktur artistik Isabel Arrate Fernández memimpin edisi kali ini, dengan Amsterdam sebagai tuan rumah selama sebelas hari.

Pengumuman ini jadi penanda posisi Huezo di peta sinema dokumenter global. Namanya kini berdampingan dengan deretan pembuat film yang sebelumnya menerima penghormatan serupa di IDFA.

Retrospektif Lengkap dan Kurasi Pribadi

IDFA akan menayangkan retrospektif menyeluruh atas karya Huezo, termasuk sejumlah film pendeknya. Festival juga memberi ruang bagi Huezo untuk menyusun daftar sepuluh film pilihan pribadinya.

Kurasi itu berangkat dari minatnya pada sinematografi, untuk menelusuri bagaimana kamera membentuk persepsi kita atas realitas. Sebuah percakapan panjang bersama Huezo akan menjadi acara Talk utama edisi 2026.

Jejak Karya dari The Tiniest Place sampai Prayers for the Stolen

Huezo lahir di El Salvador dan tumbuh di Meksiko. Karya-karyanya bergerak di antara dokumenter dan fiksi, menyorot bagaimana konsekuensi kekerasan kejahatan terorganisir serta gejolak politik membentuk hidup keluarga dan komunitas lokal.

Film-filmnya antara lain The Tiniest Place (2011), The Echo (2023), dan debut fiksinya Prayers for the Stolen (2021). IDFA menyebut sinemanya berakar pada pengamatan cermat, dengan bahasa visual dan sonik yang teliti sehingga memori dan pengalaman muncul lewat atmosfer serta kisah personal yang mendalam.

Spotlight untuk William Greaves

IDFA juga mengumumkan program Spotlight 2026 yang difokuskan pada William Greaves, pembuat film Amerika yang telah wafat. Greaves dikenal lewat pengamatan tajam atas kehidupan sosial dan politik untuk menelusuri sejarah serta budaya kulit hitam.

Awal tahun ini, Sundance Film Festival menayangkan perdana Once Upon a Time in Harlem. Proyek dokumenter yang digagas dan direkam Greaves pada 1972 itu baru diselesaikan lebih dari 50 tahun kemudian oleh putranya, David Greaves, dan cucunya, Liani Greaves.

Dalam program Spotlight, IDFA akan memutar Once Upon a Time in Harlem, lalu Symbiopsychotaxiplasm: Take One (1971) yang menyulap syuting fiksi di Central Park menjadi studi self-reflexive tentang kru film yang memberontak. Turut diputar The Fight [The William Greaves Director's Cut] (1973) yang merekam atmosfer panas menjelang duel juara Joe Frazier melawan Muhammad Ali.

Dead Angle Angkat Tema Common Ground

Program fokus multi-tahun IDFA, Dead Angle, menutup rangkaiannya dengan tema Common Ground. Setelah Borders (2024) dan Institutions (2025), program ini menelusuri cara orang berkumpul, dari solidaritas dan perlawanan kolektif hingga kehidupan sehari-hari komunitas serta fungsi ruang publik.

Sejumlah judul sudah dikonfirmasi. The Battle Front for the Liberation of Japan – Summer in Sanrizuka (1968) karya Shinsuke Ogawa mendokumentasikan petani dan mahasiswa yang bersatu menolak perluasan Bandara Narita Tokyo. American Dream (1990) arahan Barbara Kopple, peraih Oscar, memotret ketimpangan buruh dan pemodal dalam aksi mogok panjang di pabrik pengolahan daging Minnesota.

Program ini juga menyoroti koneksi sehari-hari. Trotoar Warsawa jadi panggung dalam The Balcony Movie karya Pawe? ?ozi?ski, yang merekam perjumpaan spontan dengan pejalan kaki dari balkon rumahnya. Work in Progress (2001) arahan José Luis Guerín memperlihatkan bagaimana gentrifikasi mengubah kawasan Barcelona sekaligus memutus sejarah dan relasi di dalamnya. Everybody to Kenmure Street (2026) karya Felipe Bustos Sierra menangkap perlawanan kolektif ratusan warga Glasgow yang mencegah deportasi dua tetangga mereka.

Seleksi lengkap Dead Angle baru akan dikonfirmasi pada 13 Oktober. IDFA juga membagikan detail edisi ke-20 IDFA DocLab dengan tema Shared Realities, yang merayakan dua dekade seni dokumenter interaktif dan imersif sambil menatap dua puluh tahun berikutnya.

IDFA DocLab berawal sebagai eksperimen pada 2007 dan kini jadi platform terdepan yang mempertemukan seni digital dengan refleksi kritis atas teknologi. Program anniversary ini menengok kembali sejarah DocLab, merencanakan pemunculan kembali karya arsip formatif, sekaligus melangkah maju dengan pertanyaan soal realitas seperti apa yang ingin dialami bersama di masa depan.

Edisi ke-39 IDFA menegaskan posisi festival ini sebagai barometer sinema dokumenter dunia, tempat nama-nama seperti Huezo dan Greaves diperkenalkan ulang ke generasi penonton baru.

Reporter: Cahyo Wibowo
Sumber: deadline.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top