SEMARANG — Pengurus Paguyuban Galeri Sentra Batik Warna Alam Malon, Putri Merdekawati (47), menyebut batik pewarna alam punya karakter warna yang sulit ditemukan pada batik pasaran. Warna dihasilkan dari kayu dan daun melalui proses perebusan serta pencelupan.
Sejumlah kafilah MTQ Nasional XXXI yang menikmati rangkaian kegiatan di pusat Kota Semarang ikut melirik produk yang dipamerkan. Peminatnya tidak terbatas warga lokal, tetapi juga peserta dari luar daerah.
Menurut Putri, warna menjadi karakter utama yang membedakan batik warna alam Malon dengan produk lain. Nuansanya cenderung kalem dan tidak mengkilap.
"Warna-warnanya cenderung soft, dove, tidak mengkilap. Jadi memang berbeda dengan batik-batik yang ada di pasaran," katanya.
Produk yang dijual tidak hanya kain batik. Pengrajin juga membawa pakaian jadi, syal, anting, kalung, hingga produk hasil daur ulang limbah kain.
"Kalau untuk produk yang kami pamerkan, kami jual dan sekaligus dipromosikan. Ada kain batik warna alam sebagai produk utama, kemudian ready to wear, turunannya ada aksesoria seperti syal batik warna alam," ujar Putri.
Putri menyebut konsumen yang datang punya latar belakang beragam. Kain batik dan pakaian jadi memiliki peminat yang relatif sama banyak.
Yang menyatukan mereka, kata Putri, adalah preferensi warna lembut, natural, netral, dan earth tone. Sebagian konsumen juga mulai memperhatikan aspek lingkungan saat memilih fesyen.
"Orang yang sudah menyadari fesyen yang memperhatikan lingkungan. Ketika kita mengenakan pakaian itu juga enggak asal, tapi memperhatikan dari mana dibuat, bagaimana prosesnya, berdampak enggak buat lingkungan," katanya.
Galeri Sentra Batik Warna Alam Malon mengembangkan sekitar 10 jenis produk, termasuk syal, anting, dan kalung. Pengrajin juga memanfaatkan sisa material produksi untuk menghasilkan produk baru.
Salah satunya handbag yang dibuat dari limbah karung plastik bekas pakan hewan peliharaan. Karung itu disterilkan lebih dulu, lalu dipadukan dengan perca kain batik.
"Limbah karung plastik kami sterilkan lalu digabungkan dengan perca kain batik. Jadilah handbag," kata Putri.
Bagi pengrajin, keikutsertaan dalam pameran selama MTQ Nasional XXXI tidak semata mengejar transaksi. Pameran dinilai sebagai jalan memperkenalkan produk ke pasar yang lebih luas.
"Kalau pameran itu buat kami promosi. Kalau ada sales atau penjualan itu bonus. Utamanya pastinya promosi, upaya kami menjangkau pasar, upaya kami mendekatkan kepada pasar," ucap Putri.
Promosi itu penting karena sentra batik warna alam Malon berada di Gunungpati, berjarak sekitar satu jam dari pusat Kota Semarang.
Putri menilai karakter konsumen batik warna alam tidak selalu bisa dibatasi berdasarkan usia. Saat mengikuti pameran di Jakarta, produk mereka juga diminati kalangan anak muda.
"Ketika kami pameran di Jakarta, anak muda pun beli. Jadi akhirnya kami lebih mengerucut pada siapa pun orang yang memang cenderung punya preferensi warna lembut, soft, natural atau orang yang sudah aware," ucapnya.
Putri berharap pameran di kawasan pusat Kota Semarang semakin sering digelar. Menurutnya, kegiatan seperti itu mendekatkan pelaku usaha daerah dengan masyarakat sekaligus mengenalkan produk lokal.
"Ini momen penting supaya aset pemerintah seperti ini lebih banyak acara yang digelar di sini, supaya masyarakat kembali lagi ke sini. Karena sebenarnya sangat strategis di tengah kota," katanya.
Paguyuban Galeri Sentra Batik Warna Alam Malon terdiri dari beberapa kelompok pengrajin, yakni kelompok pengrajin batik Si Putri, Kalialang Batik, Roslina Batik, Batik Malon, dan Zie Batik.