JAWA TENGAH — Palang Merah Indonesia Kabupaten Maluku Barat Daya resmi meluncurkan aplikasi SiDarah, sistem informasi digital untuk mengelola data donor, stok, dan distribusi darah di wilayah kepulauan. Peluncuran ditandai penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara PMI MBD dan RSUD Tiakur. Aplikasi ini menyasar percepatan layanan darah di daerah yang terkendala geografis.
Ketua PMI Kabupaten MBD, Rommi I. Rumambi, menyatakan aplikasi ini dirancang menyesuaikan kebutuhan masyarakat di daerah kepulauan. Sistem mencakup informasi donor, stok, kebutuhan, hingga distribusi darah.
Aplikasi SiDarah mengintegrasikan empat komponen utama pengelolaan darah: data pendonor, ketersediaan stok, permintaan dari fasilitas kesehatan, dan jalur distribusi. Sebelumnya, proses ini dikelola secara manual atau terpisah antarinstansi.
Bagi PMI MBD, sistem digital memungkinkan pemantauan stok darah secara real-time. Bagi RSUD Tiakur sebagai mitra utama, permintaan darah dapat diajukan dan dilacak melalui satu platform.
Rommi menegaskan aplikasi ini diharapkan mempercepat dan mempermudah pengelolaan informasi. "Aplikasi SiDarah MBD diharapkan dapat mempercepat dan mempermudah pengelolaan informasi donor, stok, kebutuhan, dan distribusi darah, sehingga pelayanan kepada masyarakat semakin baik," ujarnya.
Perjanjian Kerja Sama ditandatangani Rommi I. Rumambi dan Direktur RSUD Tiakur, dr. Jimmy Sindahanis. Kerja sama ini memperkuat koordinasi antara PMI dan fasilitas kesehatan dalam pengelolaan informasi darah.
Dengan dukungan sistem digital, data yang berkaitan dengan kebutuhan pelayanan darah dapat dikelola lebih terintegrasi. RSUD Tiakur menjadi mitra pertama yang terhubung ke aplikasi ini.
dr. Jimmy Sindahanis mengapresiasi pengembangan SiDarah sebagai dukungan terhadap pelayanan kesehatan. Menurutnya, aplikasi masih dapat dikembangkan sesuai kebutuhan pelayanan di masa mendatang.
"Melalui kerja sama ini, PMI MBD dan RSUD Tiakur berkomitmen memperkuat kolaborasi dalam pengelolaan informasi darah," ujarnya.
Maluku Barat Daya terdiri dari ratusan pulau dengan akses transportasi terbatas. Distribusi darah antarwilayah sering terkendala jarak dan jadwal kapal.
Kehadiran SiDarah diharapkan memangkas waktu koordinasi antara PMI dan rumah sakit. Informasi stok yang akurat mencegah pengiriman darah yang tidak sesuai kebutuhan atau penumpukan di satu lokasi.
Inisiatif ini sejalan dengan tren digitalisasi layanan kesehatan di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Pemerintah mendorong pemanfaatan teknologi untuk menjembatani kesenjangan akses kesehatan.
PMI MBD belum merinci jadwal ekspansi atau fitur tambahan. Namun, dr. Jimmy menyebut aplikasi masih terbuka untuk pengembangan sesuai kebutuhan layanan.
Langkah selanjutnya adalah memastikan integrasi berjalan lancar antara PMI MBD dan RSUD Tiakur. Keberhasilan di Tiakur dapat menjadi model untuk rumah sakit lain di wilayah kepulauan Maluku.