Pencarian

Wamenkomdigi Dorong Indonesia Masuk Rantai Industri AI, Bukan Sekadar Pengguna

Senin, 14 September 2026 • 15:35:01 WIB
Wamenkomdigi Dorong Indonesia Masuk Rantai Industri AI, Bukan Sekadar Pengguna
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria berbicara dalam Deloitte Indonesia Townhall di Jakarta Selatan, Jumat (11/9/2026).

JAWA TENGAH — Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyatakan Indonesia tidak cukup hanya menjadi konsumen teknologi kecerdasan artifisial. Posisi dalam rantai industri AI global perlu diamankan agar memberi nilai tambah sekaligus memperkuat daya tawar nasional.

Pernyataan itu disampaikan Nezar dalam Deloitte Indonesia Townhall di Jakarta Selatan, Jumat (11/9/2026), dikutip dari laman resmi Komdigi. Menurutnya, peluang tersebut terbuka karena Indonesia memiliki sumber daya yang dibutuhkan industri semikonduktor, salah satu fondasi utama ekosistem AI.

Lebih dari Sekadar Lapisan Aplikasi

Nezar menjelaskan industri AI tidak berhenti pada aplikasi yang dipakai masyarakat dan pelaku usaha. Di bawahnya ada rantai panjang yang mencakup kebutuhan energi dan air, pusat data dan compute power, semikonduktor, hingga platform.

Indonesia dinilai punya peluang masuk lebih dalam ke rantai tersebut, terutama lewat material yang dibutuhkan industri semikonduktor. "Yang namanya semikonduktor itu membutuhkan begitu banyak material, termasuk juga critical mineral. Nah, kita punya banyak di Indonesia yang akan menyumbang untuk pembuatan semikonduktor," katanya.

Nezar menyebut nikel, pasir silika, timah, tembaga, dan emas sebagai sumber daya yang dimiliki Indonesia. Namun kepemilikan bahan baku saja belum cukup untuk menciptakan posisi strategis.

Pasir Silika 7,8 Miliar Ton Belum Diolah

Data ESDM yang dikutip Nezar menunjukkan cadangan pasir silika Indonesia mencapai 7,8 miliar ton. Angka itu belum diikuti kemampuan pengolahan menjadi silicone wafer, material yang dibutuhkan untuk membuat semikonduktor.

"Pasir silika kita 7,8 miliar ton menurut data ESDM. Tetapi tidak ada yang mengolahnya menjadi silicone wafer yang dibutuhkan untuk membuat semikonduktor," ujarnya.

Kondisi ini membuat Indonesia masih berperan sebagai pemasok komoditas, bukan pemain di rantai nilai teknologi. Padahal, kemampuan mengolah sumber daya menjadi material strategis dapat menciptakan apa yang Nezar sebut sebagai choke point.

Apa Itu Choke Point dan Mengapa Penting

Choke point adalah titik penting dalam proses produksi yang dikuasai pihak tertentu dan sulit digantikan. Nezar menegaskan konsep ini berbeda dari penguasaan jalur pelayaran seperti Selat Hormuz atau Selat Malaka.

"Dalam industri ini, siapa yang menguasai barang-barang yang langka, dia akan menguasai choke point. Choke point itu bukan seperti menguasai Selat Hormuz atau Selat Malaka, tetapi dalam proses produksi ada titik-titik sempit yang dikuasai oleh negara-negara tertentu saja," jelasnya.

Karena itu, Indonesia tidak harus menguasai seluruh rantai industri AI untuk mendapat posisi strategis. Nezar menilai Indonesia bisa memilih bagian tertentu yang bernilai strategis, lalu membangun kapasitas di bagian tersebut.

Belajar dari Taiwan dan Korea Selatan

Nezar mengakui Indonesia tidak akan serta-merta meniru Taiwan yang telah lama membangun industri semikonduktor. Proses itu butuh waktu panjang dan investasi besar.

"Mungkin kita tidak akan masuk seperti Taiwan, karena itu butuh waktu yang panjang. Tapi setidaknya kita mengamankan beberapa material yang dibutuhkan oleh industri-industri seperti yang berbasis di Taiwan, di Korea Selatan. Materialnya itu ada di kita," katanya.

Pernyataan ini muncul di tengah persaingan global yang semakin ketat untuk menguasai teknologi AI. Negara-negara maju berlomba mengamankan akses ke mineral kritis, kapasitas chip, dan pusat data sebagai penopang ekosistem AI mereka.

Kolaborasi Jadi Kunci

Nezar menekankan kolaborasi lintas sektor sebagai syarat utama membangun ekosistem AI yang utuh dari hulu ke hilir. "Ini saatnya kolaborasi harus dilakukan untuk menciptakan ekosistem yang end-to-end," ujarnya.

Bagi pelaku industri digital Indonesia, arah kebijakan ini berpotensi membuka peluang kemitraan di sektor pengolahan material, infrastruktur pusat data, dan pengembangan platform AI lokal. Pemerintah lewat Komdigi menempatkan posisi di rantai pasok global sebagai target jangka menengah, bukan sekadar adopsi teknologi di tingkat aplikasi.

Follow pantaujateng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: rri.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks