JAWA TENGAH — Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkap harga sejumlah bahan pokok saat ini justru berada di bawah harga acuan, seperti telur ayam Rp26.700 per kilogram dan bawang merah Rp33.300 per kg. Pemerintah menegaskan kenaikan harga tidak otomatis jadi persoalan selama masih di bawah patokan yang dihitung dari biaya produksi dan distribusi. Di sisi lain, beras medium masih melampaui harga eceran tertinggi.
Menteri Perdagangan Budi Santoso membeberkan peta harga bahan pokok terkini dalam podcast Money Honey yang disiarkan CNN Indonesia, Kamis (24/9). Ia menekankan pemerintah tidak hanya turun tangan saat harga melonjak, tetapi juga ketika harga jatuh terlalu rendah hingga menekan produsen dan mengancam pasokan.
Budi memakai harga acuan dan harga eceran tertinggi (HET) sebagai patokan utama membaca pergerakan harga. Kenaikan dari posisi sebelumnya, katanya, belum tentu berarti harga sudah merugikan konsumen.
Menurut Budi, harga acuan maupun HET ditetapkan setelah mempertimbangkan pertemuan kepentingan produsen dan konsumen, termasuk biaya produksi dan distribusi. Harga telur rata-rata nasional kini berada di kisaran Rp26.600 per kg, sementara harga acuannya Rp30 ribu. Sebelumnya harga telur sempat menyentuh Rp22 ribu hingga Rp23 ribu per kg.
Kondisi serupa terjadi pada ayam. Harga acuannya Rp40 ribu per kg, sedangkan harga sempat berada di kisaran Rp34 ribu hingga Rp35 ribu. Rendahnya harga ketika itu membuat sebagian peternak tak mampu menutup biaya produksi, bahkan ada yang membuang telur dan ayam.
"Makanya pentingnya harga acuan. Harga telur Rp30 ribu (per kg) itu dihitung dulu, berapa biaya produksi, berapa biaya distribusi, kemudian harga idealnya untuk konsumen berapa," ujar Budi.
Karena itu, kenaikan harga telur dari Rp22 ribu menjadi Rp26.600 tidak bisa langsung dipandang sebagai persoalan. Posisinya masih di bawah harga acuan. Pemerintah, lanjut Budi, perlu menjaga ekosistem pangan agar peternak tetap bisa berusaha tanpa merugikan konsumen.
Sejumlah komoditas justru berada di atas HET maupun harga acuan. Harga beras medium rata-rata nasional disebut Rp13.900 per kg, sedangkan HET Rp13.500 per kg. Pemerintah merespons dengan menyalurkan 1 juta ton beras SPHP melalui Perum Bulog, yang kemudian memakai nama Beras Kita, untuk didistribusikan ke ritel modern dan pasar rakyat.
Harga ayam rata-rata nasional berada di sekitar Rp40.700 per kg, dibandingkan harga acuan Rp40 ribu per kg. Harga tersebut sebelumnya sempat mencapai Rp41 ribu setelah berada di kisaran Rp34 ribu per kg. Pemerintah melakukan intervensi agar harga ayam kembali mendekati acuan.
"Jangan naik di atas Rp40 ribu, makanya kita jaga supaya tetap Rp40 ribu," kata Budi.
Di sisi lain, sejumlah komoditas berada di bawah harga acuannya:
Budi mengingatkan harga bahan pokok di satu pasar tidak bisa langsung dijadikan gambaran harga nasional. Perbedaan harga antardaerah, terutama antara wilayah Barat dan Timur Indonesia, dipengaruhi biaya distribusi.
Harga telur Rp31 ribu per kg di satu pasar, contohnya, tidak otomatis berarti harga nasional sudah di level itu. Sebaliknya, harga Rp27 ribu di pasar lain juga tak bisa dipakai menyimpulkan harga nasional.
Informasi harga yang tidak lengkap berpotensi memicu kepanikan. Budi mencontohkan informasi harga minyak goreng Rp42 ribu yang ternyata merupakan harga kemasan dua liter, tetapi tidak dijelaskan dalam informasi yang beredar.
"Informasi yang tidak benar kalau didistribusikan terus-menerus, orang lain akan menganggapnya benar. Ini yang perlu kita edukasi melalui media yang terpercaya karena kalau data tidak jelas bisa terjadi panic buying, padahal sebenarnya harganya tidak seperti itu," ujarnya.
Bagi pelaku usaha pangan dan peternak, pernyataan Mendag ini menegaskan harga acuan tetap jadi rujukan intervensi pemerintah. Konsumen diminta mencermati konteks harga sebelum menyimpulkan adanya lonjakan, terutama karena harga di tiap daerah bisa berbeda akibat ongkos distribusi.