KUDUS — Kepala BPS Kabupaten Kudus Eko Suharto menyampaikan capaian itu dalam rilis inflasi di Kantor BPS Kudus. Secara kuartal ke kuartal, ekonomi Kudus pada triwulan II 2026 tumbuh 1,86 persen dibandingkan triwulan I 2026. Secara kumulatif, pertumbuhan semester I 2026 terhadap semester I 2025 tercatat 6,45 persen.
Sektor industri pengolahan menyumbang 75,36 persen terhadap perekonomian Kudus. Angka itu jauh di atas sektor perdagangan yang berkontribusi 6,31 persen, konstruksi 4,48 persen, dan pertanian 2,68 persen.
Lapangan usaha lain seperti transportasi dan pergudangan, penyediaan akomodasi dan makan minum, jasa pendidikan, pertambangan, serta pengadaan air memberi kontribusi bervariasi antara sekitar 2 persen hingga 0,50 persen.
"Jadi, seluruh lapangan usaha di Kabupaten Kudus mencatatkan pertumbuhan positif selama triwulan II 2026," kata Eko.
Peningkatan aktivitas industri pengolahan, termasuk industri hasil tembakau (IHT), menjadi pendorong utama pertumbuhan. Pada triwulan II 2025, aktivitas industri tembakau sempat menurun dan ikut menekan pertumbuhan ekonomi Kudus.
Kondisi berbalik pada tahun ini. Aktivitas industri mulai menunjukkan peningkatan, sejalan dengan pulihnya produksi di sektor padat karya tersebut.
"Selain industri pengolahan, sejumlah lapangan usaha juga mencatat pertumbuhan cukup tinggi, di antaranya pertanian, pengadaan listrik dan gas, serta informasi dan komunikasi," ujar Eko.
Sektor pertanian ikut mencatat pertumbuhan tinggi pada triwulan II 2026. Musim panen raya menjadi salah satu pemicunya.
Aktivitas peternakan juga mendapat dorongan dari momentum Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Kedua momen itu biasanya meningkatkan permintaan daging dan hasil ternak di pasar lokal Kudus.
"Selain tanaman pangan, aktivitas peternakan juga mendapat dorongan dari momentum Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha," pungkas Eko.
Dengan capaian ini, seluruh lapangan usaha di Kudus mencatat pertumbuhan positif. Industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi masih mendominasi struktur perekonomian daerah.