BLORA — Pelaksana proyek preservasi gorong-gorong, Ryan, menyebut pengerjaan drainase itu menyasar aliran air di sekitar badan jalan yang selama ini kerap meluap. Pekerjaan mencakup penanganan infrastruktur drainase eksisting agar fungsinya lebih optimal.
"Ukuran gorong-gorong satu unit lebarnya 1,2 meter dengan kedalaman 1,5 meter. Total panjangnya 12 meter," ujar Ryan, Jumat, 16 Oktober 2026.
Proyek itu juga dilengkapi penampungan air guna menekan luapan dari ruas jalan nasional saat curah hujan tinggi. Dalam pelaksanaannya, kata Ryan, proyek melibatkan lima pekerja dan tiga operator alat berat.
Ryan menjelaskan, anggaran preservasi yang dialokasikan BBPJN Jawa Tengah-Yogyakarta terdiri atas beberapa pos. Rehabilitasi jalan menyerap Rp7 miliar, pemeliharaan rutin kondisi jalan Rp1,5 miliar, penanganan holding Rp1,5 miliar, dan pemeliharaan berkala jembatan Rp600 juta.
Paket preservasi tersebut tidak hanya menyentuh ruas Blora-Cepu. Sejumlah ruas lain ikut ditangani, yakni Jalan Ahmad Yani dan Jalan Jenderal Sudirman di Kabupaten Blora serta Jalan Mantingan di Kabupaten Rembang.
Pekerjaan preservasi dilakukan untuk menangani kerusakan jalan nasional di sejumlah titik pada ruas Rembang-Blora-Cepu. Lubang pada badan jalan muncul akibat tingginya curah hujan di kawasan tersebut.
Ryan menuturkan, BBPJN tidak hanya memperbaiki permukaan jalan. Infrastruktur pendukung seperti gorong-gorong dan jembatan ikut diperbaiki agar fungsi jalan nasional tetap terjaga.
"Infrastruktur pendukung itu, menjaga fungsi jalan nasional serta mengurangi risiko genangan dan luapan air saat musim hujan," katanya.
Ruas Jalan Nasional Blora-Cepu sebelumnya pernah diterjang banjir. Limpasan air menggenangi sejumlah ruko di Desa/Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora, hingga barang dagangan warga rusak dan sebagian hanyut.
Perbaikan drainase diharapkan memutus persoalan serupa saat musim hujan berikutnya. Kondisi jalan yang terjaga juga disebut mendukung kelancaran dan keselamatan lalu lintas di jalur penghubung Blora-Rembang-Cepu.