Pengamat ITB Nilai Lonjakan Permintaan Motor Listrik di Bali Bukan Panic Buying

Penulis: Andi Pratama  •  Senin, 19 Oktober 2026 | 18:08:32 WIB
Pengamat otomotif ITB Yannes Martinus Pasaribu menilai kenaikan permintaan motor listrik di Bali sebagai upaya warga mencari alternatif mobilitas.

JAWA TENGAH — Pengamat otomotif ITB Yannes Martinus Pasaribu menilai kenaikan permintaan motor listrik di Bali saat kelangkaan BBM lebih tepat dibaca sebagai upaya warga mencari alternatif mobilitas. Antrean inden di dealer belum tentu mencerminkan lonjakan pembelian masif, karena bisa dipicu ketidaksiapan stok. Pembeli disebut tetap memperhitungkan aspek finansial sebelum memutuskan.

Yannes Martinus Pasaribu, pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung, menyampaikan penilaian itu saat dihubungi Bloomberg Technoz pada Senin (19/10/2026). Menurutnya, kenaikan permintaan motor listrik di Provinsi Bali tidak bisa langsung disimpulkan sebagai fenomena panic buying secara luas.

Motif Warga: Alternatif Mobilitas, Bukan Kepanikan

Bagi sebagian warga, transportasi bukan pilihan yang bisa ditunda. Pekerjaan menuntut mereka tetap bergerak meski pasokan BBM sedang terganggu.

"Meningkatnya permintaan motor listrik saat kelangkaan BBM lebih tepat dilihat sebagai upaya masyarakat mencari alternatif mobilitas karena bagi masyarakat yang harus tetap bekerja, kebutuhan transportasi memang tidak bisa ditunda," ujar Yannes Pasaribu.

Pernyataan itu menempatkan motor listrik sebagai solusi praktis jangka pendek. Bukan bentuk kepanikan kolektif yang mendorong pembelian impulsif.

Antrean Inden Bisa Jadi Soal Stok Dealer, Bukan Lonjakan Pembelian

Yannes menyoroti masa tunggu unit di tingkat dealer yang kerap dijadikan indikator lonjakan permintaan. Menurutnya, antrean itu belum tentu mencerminkan pembelian masif.

Ketidaksiapan stok dealer dalam merespons permintaan mendadak bisa menjadi penyebab. Dealer yang biasanya melayani volume normal tiba-tiba harus menyesuaikan diri dengan permintaan yang naik cepat.

"Kalau sampai inden sepekan, bisa jadi konsumen sedang mengantisipasi gangguan berikutnya atau mempercepat rencana pembelian yang sebelumnya sudah ada," lanjut Yannes.

Penjelasan itu memberi dua kemungkinan. Konsumen memajukan rencana pembelian yang sudah ada, atau mereka bersiap menghadapi gangguan pasokan berikutnya.

Pembeli Tetap Hitung Finansial Sebelum Memutuskan

Yannes menambahkan bahwa masyarakat umumnya memperhitungkan aspek finansial secara matang sebelum membeli kendaraan bermotor. Motor listrik bukan pembelian kecil, dan konsumen disebut mempertimbangkan kemampuan bayar serta biaya operasional.

Penilaian itu menjadi pengingat bahwa data penjualan dan antrean dealer perlu dibaca bersama konteks lain. Tanpa itu, kesimpulan soal panic buying berisiko terlalu cepat diambil.

Reporter: Andi Pratama
Sumber: bloombergtechnoz.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top