PEKALONGAN — Kepala SMP Negeri 4 Kota Pekalongan, Masykur, membenarkan kejadian yang melibatkan guru Matematika berinisial D tersebut. Pihak sekolah telah meminta keterangan dari guru, siswa, dan keluarga korban untuk memastikan kronologi peristiwa.
Peristiwa bermula saat guru meminta para siswa menyiapkan buku catatan dan menuliskan materi yang dicontohkan di papan tulis. Ketika memeriksa kesiapan siswa, guru mendapati G belum menyiapkan buku catatannya.
G kemudian diminta mengambil buku dari dalam tas. Dalam situasi tersebut, guru diduga terpancing emosi hingga menjewer telinga siswa.
Dampak tindakan itu tidak berhenti pada persoalan kedisiplinan di kelas. G dilaporkan mengalami pendarahan pada telinga hingga harus mendapatkan penanganan medis di RS Budi Rahayu.
Masykur mengatakan dirinya telah mendatangi rumah sakit untuk memeriksa kondisi siswa tersebut. Saat tiba di lokasi, ia mendapati telinga korban sudah tidak lagi mengeluarkan darah.
"Saya sudah memastikan langsung ke rumah sakit. Saat saya datang, kondisi telinga sudah kering," ujarnya, Senin (19/10/2026).
Meski demikian, pemeriksaan lanjutan oleh dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) masih diperlukan untuk memastikan kondisi kesehatan korban. Selain pendarahan pada telinga, G juga disebut mengalami memar di bagian lengan.
Guru berinisial D disebut telah mendatangi rumah sakit setelah mengetahui kondisi siswa. Menurut Masykur, biaya pengobatan korban ditanggung oleh guru tersebut.
Pihak sekolah menyatakan telah memanggil D untuk dimintai keterangan sekaligus menjalani pembinaan. Upaya serupa dilakukan di tingkat Dinas Pendidikan Kota Pekalongan.
Masykur bersama guru yang bersangkutan mendatangi Dinas Pendidikan pada Minggu (18/10/2026) sore untuk mengikuti proses pembinaan.
"Untuk tindakan sekolah, kami sudah memanggil yang bersangkutan dan melakukan pembinaan," katanya.
Meski pembinaan telah dilakukan, sekolah belum menetapkan sanksi terhadap guru tersebut. Keputusan mengenai tindakan lanjutan masih menunggu proses klarifikasi dan pemeriksaan informasi terkait kejadian.
"Sanksinya belum ditentukan karena masih dalam proses. Kami perlu memastikan semua informasi secara jelas dan benar," ungkap Masykur.
Ia menyatakan, apabila nantinya ada sanksi yang harus diterima, pihaknya sudah menyampaikan agar guru tersebut menerimanya dengan baik.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekalongan, Mabruri, membenarkan adanya peristiwa tersebut. Ia menyebut pihak sekolah telah mengambil langkah awal untuk menangani kejadian itu.
"Sudah kami konfirmasi benar adanya. Langkah-langkah sudah dilakukan oleh sekolah," kata Mabruri.
Menurut dia, perhatian utama saat ini diarahkan pada pemenuhan kebutuhan penanganan siswa yang mengalami kejadian tersebut.
"Lebih fokus ke korban agar memperoleh pelayanan yang baik," katanya.
Hingga Senin (19/10/2026), penanganan kasus masih berlangsung. Selain memastikan kondisi kesehatan korban, pihak sekolah dan Dinas Pendidikan masih menjalankan proses pembinaan serta klarifikasi sebelum menentukan tindak lanjut terhadap guru yang bersangkutan.