Citra NASA Deteksi Karbon Monoksida Pekat di Langit Indonesia

Penulis: Cahyo Wibowo  •  Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:36:31 WIB
Citra satelit NASA memetakan konsentrasi karbon monoksida tinggi di atmosfer Indonesia pada ketinggian sekitar 5.500 meter sejak awal Oktober.

JAWA TENGAH — Citra satelit NASA mendeteksi konsentrasi karbon monoksida tinggi menyelimuti atmosfer Indonesia dari Sumatra hingga Papua sejak awal Oktober. Pemetaan pada ketinggian sekitar 5.500 meter itu belum cukup menentukan risiko keracunan langsung bagi warga. Gas tak berwarna dan tak berbau ini tetap perlu diwaspadai karena disebut BPOM sebagai silent killer.

Platform Eyes on the Earth milik NASA memperlihatkan warna merah tua mendominasi peta atmosfer di atas Indonesia. Pantauan CNNIndonesia.com pada Jumat (16/10) menunjukkan sebaran pekat gas tersebut membentang dari Sumatra sampai Papua, dengan konsentrasi berada di bagian atas skala pemetaan.

Kadar tinggi karbon monoksida (CO) di langit Nusantara terpantau sejak awal Oktober. NASA menduga lonjakan ini berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), selain sumber lain seperti kendaraan bermotor, gunung berapi, serta pembakaran kayu dan bahan bakar fosil yang tidak sempurna.

Mengapa Data Ketinggian 5.500 Meter Penting

Pengukuran satelit dilakukan pada ketinggian sekitar 5.500 meter di atas permukaan. Pada level itu, konsentrasi CO belum bisa dipakai untuk menyimpulkan risiko keracunan bagi warga di permukaan tanah.

Artinya, peta merah NASA adalah indikator sebaran polutan di atmosfer, bukan alat ukur kualitas udara yang dihirup sehari-hari. Pembacaan risiko tetap membutuhkan data kualitas udara permukaan dari stasiun pemantauan.

Bagaimana Karbon Monoksida Merusak Tubuh

Kementerian Kesehatan menjelaskan CO yang terhirup berikatan dengan hemoglobin, protein sel darah merah pembawa oksigen. Ikatan itu membentuk karboksihemoglobin (COHb) yang menghambat kemampuan darah mengangkut oksigen.

Jaringan tubuh lalu kekurangan oksigen atau mengalami hipoksia. BPOM menambahkan hemoglobin berikatan lebih kuat dengan karbon monoksida dibanding oksigen, sehingga organ yang rakus oksigen seperti otak dan jantung paling rentan terganggu.

Kemenkes juga menyebut paparan CO memperburuk kondisi pasokan oksigen pada otot jantung, khususnya bagi orang dengan riwayat penyakit jantung koroner.

Gejala Keracunan yang Mudah Terlewat

Bahaya gas ini sulit dikenali karena tidak berwarna dan tidak berbau. BPOM menyebutnya silent killer atau pembunuh senyap, dengan gejala yang menyerupai keluhan penyakit lain.

Keluhan awal mencakup sakit kepala, mual, muntah, kelelahan, pusing, dan sesak napas. Pada keracunan berat, korban bisa mengalami kebingungan, gangguan penglihatan, hilangnya koordinasi gerakan, hingga penurunan kesadaran.

Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi kejang, koma, dan kematian bila tidak segera ditangani.

Sumber CO di Dalam Ruangan

Risiko paparan tidak hanya datang dari luar. Kemenkes menyoroti kompor gas, pemanas berbahan bakar minyak tanah, serta tungku atau cerobong bocor sebagai sumber CO di rumah.

BPOM turut memperingatkan gas buang kendaraan yang masuk ke kabin akibat kebocoran dan ventilasi tidak memadai. Menyalakan mesin di garasi tertutup juga berpotensi memicu keracunan.

Pertolongan Pertama Saat Curiga Keracunan

BPOM menyebut langkah awal adalah menjauhkan korban dari sumber CO dan memberikan oksigen murni. Penanganan lanjutan perlu segera dilakukan tenaga medis, dengan tetap memperhatikan keselamatan penolong.

Bagi pengguna smartphone, peta sebaran CO NASA bisa diakses lewat platform Eyes on the Earth untuk memantau perkembangan. Namun keputusan melindungi diri sebaiknya berpijak pada data kualitas udara permukaan dan imbauan pemerintah daerah setempat.

Reporter: Cahyo Wibowo
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top