JAWA TENGAH — Bursa Efek Indonesia akan mengeluarkan tiga saham berkapitalisasi jumbo—DCII, BYAN, dan BREN—dari perhitungan IHSG karena masuk kategori high shareholding concentration. Ketiganya menyumbang 8,32% bobot indeks dengan total kapitalisasi Rp 220,02 triliun, dan pencabutan bobot itu secara matematis berpotensi menggeser level IHSG sekitar 430 poin.
Berdasarkan data IDX Index Fact Sheet Composite per September 2026, PT DCI Indonesia Tbk (DCII) menyumbang 3,31% terhadap indeks dengan kapitalisasi pasar Rp 87,55 triliun. PT Bayan Resources Tbk (BYAN) berbobot 3,16% dengan kapitalisasi Rp 83,66 triliun, sedangkan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menyumbang 1,85% dengan kapitalisasi Rp 48,81 triliun.
Ketiga emiten masuk daftar saham terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration (HSC). Kepemilikan yang menumpuk di segelintir pihak membuat kapitalisasi pasar mereka tidak sebanding dengan likuiditas riil di lantai bursa.
Dengan posisi IHSG intraday di level 5.173, penghapusan bobot ketiga saham tanpa penyesuaian pembagi indeks dapat menekan indeks hingga 8,32% atau sekitar 430,39 poin. Hitungan kasar itu membawa IHSG ke level 4.742,61.
Angka tersebut bukan proyeksi penurunan sebenarnya. Dalam praktiknya, pengeluaran saham dari perhitungan indeks tidak serta-merta menggerus IHSG sebesar bobot yang dihapus karena BEI menyesuaikan faktor pembagi.
IHSG dihitung dengan menjumlahkan nilai kapitalisasi saham beredar berbasis free float seluruh emiten tercatat, lalu dibagi kapitalisasi patokan saat indeks pertama kali diluncurkan dan dikalikan 100. Karena berbasis free float, saham jumbo dengan porsi publik besar paling dominan menggerakkan indeks.
Saat ini ada 918 saham yang tercatat dalam perhitungan BEI. Jika 80 saham HSC dikeluarkan, jumlah saham yang diperhitungkan dalam IHSG berkurang menjadi 838 emiten.
Pengeluaran saham HSC juga berpotensi mengubah distribusi bobot saham yang tersisa. Saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan, diperkirakan semakin mendominasi komposisi indeks dengan batas maksimum atau capping mentok di 9%.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai kebijakan tersebut positif untuk meningkatkan kualitas indeks. Dengan mengecualikan saham yang kepemilikannya terkonsentrasi, IHSG diharapkan lebih mencerminkan pergerakan saham dengan distribusi kepemilikan luas dan likuiditas lebih sehat.
"Namun, dampaknya terhadap level indeks perlu dicermati secara proporsional," kata Nafan, dikutip Selasa (20/10).
Menurut Nafan, pengeluaran saham HSC dapat mengubah bobot dan karakter pergerakan IHSG secara signifikan. Jika saham-saham tersebut sebelumnya menjadi sumber tekanan jual, pengeluarannya berpotensi mengurangi tekanan aritmetis terhadap indeks. Sebaliknya, jika sedang menguat, kontribusi positifnya tidak lagi tercermin dalam IHSG.
Nafan menyarankan investor tidak menjadikan perubahan perhitungan IHSG sebagai satu-satunya dasar pengambilan keputusan. Fundamental emiten, tata kelola, transparansi pemegang saham, likuiditas, dan porsi free float perlu dicermati lebih dulu.
Pada saham-saham HSC, risiko volatilitas dan ketidakseimbangan antara kapitalisasi pasar dengan likuiditas riil perlu diperhitungkan cermat. Koreksi harga saham dengan fundamental kuat dan likuiditas memadai dapat dievaluasi sebagai peluang investasi bila valuasinya menarik dan prospek bisnisnya terjaga.
Di tengah ketidakpastian terkait evaluasi MSCI, investor perlu menerapkan manajemen risiko secara disiplin, menghindari utang berlebihan untuk berinvestasi, dan mempertimbangkan akumulasi saham secara bertahap.
Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su memproyeksikan IHSG berpotensi naik ke level 5.925 dalam jangka panjang. Proyeksi itu mengandaikan komposisi indeks yang lebih sehat pasca-pengeluaran saham HSC dan perbaikan sentimen pasar global.
Bagi pelaku pasar, perubahan komposisi IHSG berarti bobot saham perbankan dan emiten likuid lain akan naik relatif. Rebalancing portofolio indeks oleh manajer investasi berpotensi menciptakan arus transaksi tambahan di saham-saham pengganti, terutama yang masuk kategori kapitalisasi besar dengan free float memadai.