Saham BUMN Dinilai Masih Murah, Fundamental Kuat Tahan Tekanan IHSG

Penulis: Eko Saputro  •  Jumat, 23 Oktober 2026 | 13:07:01 WIB
IHSG ditutup menguat 59,54 poin ke level 5.387,91 pada perdagangan Kamis (22/10/2026).

JAWA TENGAH — Saham-saham badan usaha milik negara (BUMN) dinilai masih punya daya tarik di tengah koreksi pasar, seiring valuasi yang tergolong murah dan fundamental perusahaan yang kuat. Penilaian itu muncul saat IHSG ditutup menguat 59,54 poin atau 1,12 persen ke level 5.387,91 pada perdagangan Kamis (22/10/2026). Optimisme ini datang dari pengamat pasar modal hingga CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani.

Pengamat pasar modal Nefo Handojo menilai koreksi harga saham saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental perusahaan. Menurut dia, valuasi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), termasuk emiten BUMN, relatif murah dibandingkan kondisi sebelumnya. Pandangan itu disampaikannya di Jakarta, Kamis (22/10/2026), di tengah tekanan yang masih membayangi pasar saham domestik.

Valuasi Murah di Tengah Koreksi

Nefo menyebut penurunan harga saham lebih banyak dipicu faktor di luar fundamental emiten. Ia menilai level indeks di atas 7.000 justru lebih wajar mencerminkan kondisi perusahaan-perusahaan di BEI.

"Secara umum valuasi saham memang murah dan begitu juga dengan saham-saham BUMN, jadi penurunan lebih karena faktor di luar fundamental saham di BEI yang menurut pandangan saya lebih wajar dengan indeks di atas 7.000," ujar Nefo.

Salah satu faktor tekanan yang ia soroti adalah ketidakpastian terkait keputusan MSCI. Nefo berharap regulator melakukan perbaikan untuk menjawab berbagai perhatian yang disampaikan lembaga penyedia indeks global tersebut.

MSCI dan Minat Investor Asing

Meski menjadi sumber tekanan, Nefo menilai aturan MSCI hanya berdampak pada kelompok dana tertentu. Menurut dia, masih banyak fund di luar skema MSCI yang tetap memburu saham dengan valuasi menarik.

"Jadi selama fundamental perusahaan masih mendukung penurunan indeks akan terbatas, soal MSCI hanya akan berpengaruh untuk fund tertentu dan banyak fund di luar yang akan tetap membeli saham dengan valuasi menarik tanpa harus ikut aturan MSCI," katanya.

Artinya, selama kinerja emiten terjaga, tekanan terhadap harga saham diperkirakan tetap terbatas. Valuasi yang murah disebut menjadi penopang minat investor di luar kelompok dana yang terikat ketentuan MSCI.

Danantara Melihat Koreksi sebagai Peluang

Optimisme serupa datang dari Chief Executive Officer Danantara Indonesia Rosan Roeslani. Ia menilai koreksi valuasi saham justru menjadi kesempatan bagi Danantara untuk berinvestasi dengan orientasi jangka panjang.

Menurut Rosan, penurunan harga membuat valuasi sejumlah perusahaan, termasuk BUMN, lebih menarik sebagai sasaran investasi. Ia menyampaikan hal itu dalam konferensi pers bersama Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (16/10/2026).

"Kami melihat justru ini momen, kalau kita lihat valuasi dari perusahaan-perusahaan kita, termasuk BUMN itu valuasinya sangat boleh dikatakan rendah pada saat ini karena terjadinya koreksi, justru kami melihatnya ini sebagai suatu opportunity ke depannya," ujar Rosan.

Rosan turut menyoroti sektor perbankan yang dinilainya memiliki fundamental kuat dan solid. Kondisi itu, menurutnya, membuat valuasi sejumlah perusahaan perbankan menarik bagi investor. Ia menegaskan Danantara memposisikan diri sebagai investor jangka panjang, bukan pemodal yang keluar-masuk pasar.

"Danantara selalu melihat investasi itu sebagai long term investment bukan sebagai investor in and out," lanjutnya.

Kombinasi valuasi murah dan fundamental yang terjaga menjadi modal saham BUMN untuk tetap dilirik investor. Bagi pasar, sinyal dari pengamat dan Danantara ini menegaskan bahwa koreksi IHSG lebih banyak dipengaruhi sentimen eksternal ketimbang memburuknya kinerja emiten.

Reporter: Eko Saputro
Sumber: akurat.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top