JAWA TENGAH — Perjalanan pulang seorang mahasiswa asal Bangka menuju Bandung untuk kuliah di UIN Sunan Gunung Djati sempat tertunda dua hari akibat erupsi Anak Krakatau. Bandara Soekarno-Hatta ditutup pada hari keberangkatan, 6 September 2026, sehingga penerbangan dari Bandara Depati Amir Bangka ikut dibatalkan. Tiket kembali diperoleh untuk keberangkatan 8 September pukul 09.30 WIB setelah bandara Jakarta dinyatakan beroperasi normal.
Bagi perantau yang menempuh pendidikan di Bandung, perjalanan pulang ke kota itu selalu menyimpan cerita sendiri. Seorang mahasiswa asal Bangka harus melewati rute udara panjang sebelum kembali menjalani perkuliahan di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Persiapan keberangkatan sudah matang sejak 6 September 2026, mulai dari tiket pesawat hingga seluruh keperluan yang dikemas rapi.
Rencana itu buyar di hari keberangkatan. Erupsi Anak Krakatau berdampak pada sejumlah penerbangan, dan Bandara Soekarno-Hatta Jakarta ditutup total. Semua penerbangan menuju dan dari bandara tersebut dibatalkan, termasuk jadwal dari Bandara Depati Amir Bangka.
Barang sudah dikemas, rencana sudah disusun, tetapi keadaan memaksa semuanya berubah. Keselamatan penumpang tetap menjadi prioritas utama dalam keputusan pembatalan tersebut.
Sebagai penumpang, mahasiswa tersebut tidak bisa berbuat banyak selain menerima keputusan itu. Tiket yang telah dibeli bisa di-refund penuh 100 persen. Namun penerbangan pengganti tetap harus dicari agar perjalanan ke Bandung bisa dilanjutkan.
Rencana perjalanan disusun ulang. Tiket baru akhirnya diperoleh untuk keberangkatan 8 September, setelah ada informasi bahwa Bandara Soekarno-Hatta kembali beroperasi. Penundaan dua hari terasa cukup berat bagi mahasiswa yang harus segera kembali ke rutinitas perkuliahan.
Tanggal 8 September tiba. Persiapan dilakukan sejak pagi, dan pesawat dijadwalkan lepas landas pukul 09.30 WIB. Setelah semua barang siap, perjalanan menuju bandara kembali dimulai.
Suasana bandara terlihat normal seperti biasa. Para penumpang melakukan check-in, membawa koper, dan menunggu waktu keberangkatan. Pengalaman pembatalan sebelumnya membuat mahasiswa tersebut lebih cermat memperhatikan setiap informasi penerbangan.
Pesawat akhirnya lepas landas tepat pukul 09.30 WIB. Dari dalam kabin, Bangka perlahan terlihat semakin jauh. Lubang-lubang bekas penambangan timah, hamparan kebun sawit, dan tambak-tambak udang menghilang dari pandangan, berganti putihnya awan.
Perjalanan ini bukan sekadar berpindah kota. Ada tanggung jawab untuk kembali menjalani kehidupan sebagai mahasiswa perantau. Selama penerbangan, tugas kuliah, jadwal perkuliahan, teman-teman, dan berbagai kegiatan di Bandung mulai terbayang.
Meninggalkan keluarga memang tidak selalu mudah bagi perantau. Perjalanan yang seharusnya dilakukan 6 September akhirnya terlaksana pada 8 September. Sesampainya di Bandung, rasa lelah bercampur lega.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa perjalanan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Keadaan kadang memaksa seseorang berhenti sejenak dan mengubah jadwal. Menjadi perantau bukan hanya soal keberanian pergi jauh dari rumah, tetapi juga kesabaran menghadapi hal-hal tak terduga. Perjalanan yang berubah dari rencana tetap bisa membawa seseorang sampai ke tujuan.