JAWA TENGAH — Hujan deras yang mengguyur wilayah barat daya Jepang sejak Minggu pagi memaksa JMA mengaktifkan sistem peringatan dini untuk tanah longsor, banjir di dataran rendah, serta potensi meluapnya sungai. Fenomena pita hujan linier—area awan hujan besar yang terbentuk berurutan di wilayah yang sama—terdeteksi di Prefektur Miyazaki dan Kagoshima hingga menjelang siang, membuat risiko bencana alam melonjak drastis.
Pita Hujan Linier Ancam Dua Prefektur, Shikoku Waspada
Menurut keterangan resmi JMA, kondisi atmosfer di Jepang bagian barat diperkirakan masih sangat tidak stabil. Shikoku, salah satu dari empat pulau utama Jepang, juga berpotensi mengalami curah hujan lebat sehingga peringatan serupa telah diperluas ke wilayah tersebut.
JMA menjelaskan, sebuah front cuaca—batas antara dua massa udara dengan karakteristik berbeda—membentang dari daratan Tiongkok melalui Kepulauan Nansei di barat daya Jepang hingga bagian selatan negara itu. "Daerah bertekanan rendah di atas Laut Cina Timur di sepanjang front cuaca tersebut bergerak ke arah timur laut," tulis JMA dalam pernyataannya.
Udara Lembap dari Laut Cina Timur Picu Hujan Ekstrem
Aliran udara hangat dan lembap yang bergerak menuju front cuaca dan daerah bertekanan rendah menjadi pemicu utama. Kondisi ini membawa hujan lebat dan badai petir ke sejumlah daerah di Jepang barat dan Kepulauan Nansei.
Prakiraan JMA menunjukkan, hingga pukul 06.00 waktu setempat Senin (8/6), curah hujan selama 24 jam dapat mencapai 300 milimeter di Shikoku, serta 150 milimeter di Kyushu selatan dan wilayah Amami. Angka ini berada jauh di atas ambang normal dan berpotensi memicu bencana hidrometeorologi.
Tokyo dan Sekitarnya Resmi Masuki Musim Hujan
Dalam pengumuman terpisah, JMA menyatakan bahwa wilayah Tokai di Jepang tengah dan wilayah Kanto-Koshin—yang meliputi Tokyo—telah resmi memasuki musim hujan. Musim hujan di kawasan metropolitan ini biasanya berlangsung hingga pertengahan atau akhir Juli.
"Cuaca berawan dan hujan saat ini meliputi kedua wilayah tersebut, dan kondisi serupa diperkirakan akan berlanjut minggu depan karena pengaruh front cuaca dan udara lembap," demikian pernyataan JMA. Warga diimbau untuk terus memantau informasi terkini dan bersiap menghadapi kemungkinan evakuasi jika peringatan dinaikkan ke level lebih tinggi.