Pencarian

Peneliti Ubah Ponsel Bekas Jadi Pusat Data Murah, Performa Single-Core Ternyata Lebih Unggul dari Server Multicore

Senin, 15 Juni 2026 • 12:56:31 WIB
Peneliti Ubah Ponsel Bekas Jadi Pusat Data Murah, Performa Single-Core Ternyata Lebih Unggul dari Server Multicore
Peneliti UC San Diego mengubah ponsel bekas menjadi pusat data hemat biaya dengan performa unggul.

Penelitian yang dipublikasikan tim UC San Diego ini bermula dari satu pertanyaan sederhana: apa yang terjadi pada jutaan ponsel pintar yang dibuang setiap tahun saat pengguna beralih ke model terbaru? Jawabannya, alih-alih berakhir di tempat pembuangan, perangkat-perangkat itu bisa 'dihidupkan kembali' sebagai fondasi pusat data.

Ponsel Bekas 2023 Ternyata Lebih Kencang dari Server Setara

Tim peneliti menggunakan ponsel-ponsel yang dirilis pada 2023—yang sudah dianggap usang oleh standar konsumen—dan mengelompokkannya menjadi sebuah platform komputasi terpadu. Hasil pengujian menunjukkan satu hal yang membalikkan asumsi industri: prosesor pada ponsel pintar tersebut unggul dalam skor single-core dibandingkan prosesor server multicore yang memiliki spesifikasi setara.

Ini artinya, untuk beban kerja tertentu yang tidak memerlukan banyak inti pemrosesan secara paralel, klaster ponsel bekas bisa bekerja lebih efisien dan lebih cepat.

Solusi untuk Pusat Data Lokal yang Selama Ini Terkendala Biaya

Selama ini, hambatan terbesar membangun pusat data di Indonesia bukan cuma soal listrik dan konektivitas, tapi juga biaya pengadaan server yang mahal. Pendekatan baru ini menawarkan jalan alternatif: menggunakan jutaan ponsel bekas yang beredar di pasar loak atau program daur ulang untuk menjalankan aplikasi secara lokal.

Dengan sistem ini, aplikasi-aplikasi tersebut tidak perlu lagi bergantung pada server cloud yang lokasinya bisa sangat jauh, yang sering kali menyebabkan latensi tinggi bagi pengguna di wilayah timur Indonesia.

Dari Limbah Elektronik Menjadi Aset Komputasi

Konsep yang diusung para peneliti bukan sekadar eksperimen laboratorium. Mereka membangun prototipe fungsional yang mampu menjalankan aplikasi nyata. Setiap ponsel dalam klaster bertindak seperti node server mini, berbagi tugas komputasi satu sama lain.

Pendekatan ini juga menjawab masalah limbah elektronik yang kian mengkhawatirkan. Menurut data Global E-waste Monitor, dunia menghasilkan lebih dari 62 juta ton limbah elektronik pada 2022, dan angka itu terus meningkat setiap tahun. Alih-alih menjadi polutan, ponsel bekas bisa menjadi tulang punggung komputasi terdistribusi.

Peluang bagi Indonesia: Lebih Hemat, Lebih Mandiri

Bagi Indonesia, temuan ini bukan sekadar berita teknologi global yang jauh dari realitas. Dengan jumlah pengguna ponsel pintar yang sangat besar dan siklus upgrade yang cepat, pasokan 'bahan baku' untuk pusat data semacam ini sangat melimpah.

Jika dikelola dengan baik—misalnya melalui program pengumpulan ponsel bekas berskala nasional—konsep ini bisa menjadi solusi bagi universitas, lembaga riset, atau bahkan pemerintah daerah untuk membangun kapasitas komputasi sendiri. Mereka tidak perlu lagi menyewa layanan cloud dari luar negeri yang biayanya bisa membengkak karena kurs dolar.

Tantangan terbesar tentu ada pada perangkat lunak manajemen klaster dan konsumsi daya, namun penelitian ini telah membuktikan bahwa ponsel bekas bukan lagi sekadar sampah elektronik. Mereka adalah server masa depan yang menunggu untuk diaktifkan.

Bagikan
Sumber: tomshardware.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks