Prediksi itu disampaikan langsung oleh Chief Financial Officer Cloudflare, Thomas Seifert, dalam panggilan konferensi pendapatan kuartal kedua perusahaan, Kamis (1/8). Seifert mengakui prediksi sebelumnya soal kapan trafik mesin melampaui manusia meleset dari perkiraan. Awalnya Cloudflare memperkirakan momen tersebut terjadi pada 2027, namun data terbaru menunjukkan mesin sudah mengambil alih pada Mei 2026.
"Dengan catatan besar bahwa saya selalu salah dalam memprediksi hal ini, jika tren saat ini berlanjut, kami memperkirakan dalam lima tahun, lalu lintas non-manusia akan mencapai 1.000 kali lipat dari lalu lintas manusia," ujar Seifert. "Dengan kata lain, manusia akan menjadi kesalahan pembulatan di internet, bukan karena trafik manusia menurun, tapi karena trafik non-manusia tumbuh sangat cepat."
Pemicu Ledakan Trafik dan Ancaman Keamanan Siber
Pertumbuhan eksponensial ini dipicu oleh menjamurnya agen kecerdasan buatan (AI) yang bekerja otomatis, seperti web crawler untuk melatih model bahasa besar atau bot yang menjalankan tugas spesifik. Lonjakan aktivitas mesin ini disebut Seifert bakal mendorong kebutuhan efisiensi infrastruktur yang jauh lebih besar, sekaligus membuka celah ancaman keamanan siber baru. Cloudflare, yang berperan sebagai "penjaga gerbang" internet, menawarkan jasanya untuk mengatasi tantangan tersebut.
Meski trafik bot meningkat, pendapatan Cloudflare justru mencatatkan pertumbuhan solid. Perusahaan membukukan pendapatan US$696 juta (sekitar Rp 11,1 triliun) pada kuartal tersebut, atau naik 36 persen secara tahunan. Namun, kerugian perusahaan melebar lebih dari tiga kali lipat menjadi US$205,7 juta. Para eksekutif dan investor tidak terlalu khawatir karena pertumbuhan pendapatan melampaui ekspektasi dan perusahaan berhasil menggaet rekor jumlah pelanggan korporasi besar.
Modal Minim, Untung Besar: Senjata Cloudflare Lawan Raksasa Cloud
Yang menarik, pertumbuhan itu dicapai dengan belanja modal (capex) yang sangat rendah, hanya sekitar 14-15 persen dari proyeksi pendapatan tahunan US$2,865 miliar, atau sekitar US$430 juta. Angka ini jauh berbeda dengan pengeluaran fantastis para pesaingnya seperti Amazon Web Services (AWS) dan Google Cloud yang masing-masing membelanjakan triliunan dolar untuk infrastruktur AI.
Perbedaan strategi ini sengaja diambil. CEO Cloudflare, Matthew Prince, menegaskan perusahaannya tidak tertarik bermain di bisnis komoditas penyewaan server. "Jika Anda menjual komputasi komoditas, jika Anda membiarkan perusahaan AI menggunakan neraca dan peringkat kredit Anda untuk membeli server yang sama dengan milik orang lain, itu bukan bisnis yang menarik bagi kami," tegas Prince.
Alih-alih menyewa server, Cloudflare berfokus pada layanan serverless yang memungkinkan pelanggan menjalankan kode tanpa perlu mengelola infrastruktur. Prince menyebut pendekatan ini lebih efisien karena Cloudflare yang bertanggung jawab memaksimalkan penggunaan memori dan penyimpanan di setiap perangkat kerasnya, bukan membebankan tugas itu kepada pelanggan. Ia juga menyindir para pesaingnya yang memiliki tingkat utilisasi GPU "sangat rendah" karena hanya menjual "kotak" kosong kepada pelanggan.
Strategi ini mendapat respons positif dari pasar. Saham Cloudflare melonjak 16 persen dalam perdagangan setelah jam bursa dan mencapai level tertinggi sepanjang masa, dengan pertumbuhan nilai saham 68 persen sejak awal tahun.