KLATEN — Lomba Dalang Anak se-Kabupaten Klaten menjadi ajang regenerasi seni pewayangan di Bumi Sukoharjo. Lima belas anak dari berbagai sanggar tampil memainkan wayang kulit di hadapan dewan juri yang terdiri dari budayawan dan dalang senior setempat.
Ketua panitia lomba, Suwarno, mengatakan antusiasme peserta tahun ini di luar ekspektasi. "Mayoritas peserta bukan lahir dari anak dalang. Melainkan anak-anak dari masyarakat awam yang tiba-tiba jatuh cinta pada wayang dan belajar di sanggar-sanggar," ujarnya.
Fenomena Baru: Dalang Cilik dari Keluarga Awam
Fenomena ini menjadi angin segar bagi kelestarian wayang kulit di Klaten. Selama ini, regenerasi dalang kerap terhambat karena dianggap hanya warisan turun-temurun keluarga dalang.
Para peserta tampil membawakan lakon-lakon klasik seperti "Gathutkaca Winisuda" dan "Pandawa Dadu" dengan durasi antara 10 hingga 15 menit per penampilan. Penilaian mencakup penguasaan sabet (gerak wayang), catur (narasi dan dialog), serta iringan gamelan.
Mengapa Anak-anak Tertarik pada Wayang?
Suwarno menambahkan, tren positif ini dipicu oleh maraknya sanggar wayang di tingkat desa. "Orang tua mulai sadar bahwa wayang mengajarkan budi pekerti. Anak-anak juga tertarik karena visual wayang yang unik dan cerita yang seru," jelasnya.
Beberapa sanggar yang mengirimkan peserta antara lain Sanggar Sedyo Laras dari Kecamatan Ceper, Sanggar Tunas Budaya dari Karanganom, dan Sanggar Muda Lestari dari Pedan. Proses latihan biasanya dilakukan dua hingga tiga kali seminggu selepas sekolah.
Harapan untuk Regenerasi Dalang Muda
Lomba ini digelar bertepatan dengan peringatan Hari Wayang Nasional yang diperingati setiap 7 November. Pemenang lomba rencananya akan mendapat kesempatan pentas di acara-acara budaya di Klaten.
Para juri menilai, kualitas peserta tahun ini cukup merata. "Bakat mereka mentah tapi potensial. Yang penting terus diasah," kata salah satu juri, Ki Slamet Widodo, dalang kondang asal Klaten.