SEMARANG — Musim kemarau tidak serta-merta membuat seluruh wilayah Jawa Tengah kering. Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Winda Ratri, menyebut empat daerah di kawasan pegunungan dan dataran tinggi bagian tengah masih berpeluang diguyur hujan ringan pada Kamis (23/7). Daerah itu meliputi Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, dan Mungkid.
“Hujan ringan masih berpeluang turun di 4 daerah kawasan pegunungan dan dataran tinggi di Jawa Tengah bagian tengah,” kata Winda Ratri dalam keterangannya, Kamis.
Sepanjang hari, cuaca Jawa Tengah secara umum cerah berawan hingga berawan. Namun, memasuki sore hingga awal malam, keempat daerah tersebut diprediksi mengalami peningkatan kelembaban yang memicu terbentuknya awan hujan. Kondisi ini membuat suhu di kawasan itu terasa lebih hangat dibandingkan daerah lain yang cenderung panas dan kering.
Gelombang Tinggi Ancam Pelayaran di Perairan Selatan dan Karimunjawa
Prakirawan BMKG Stasiun Maritim Semarang, Sediyanto, mengingatkan gelombang tinggi dengan ketinggian 1,25 hingga 2,5 meter masih berlangsung di perairan selatan Jawa Tengah. Kondisi serupa juga terjadi di perairan utara, tepatnya di kawasan Karimunjawa bagian barat dan timur.
“Gelombang setinggi itu cukup berisiko terhadap aktivitas pelayaran seperti kapal nelayan, tongkang, kapal barang maupun penumpang, terutama saat kecepatan angin di atas 15 knot,” ujar Sediyanto.
Angin pada umumnya bertiup dari arah timur ke selatan dengan kecepatan 5–35 kilometer per jam. Suhu udara di Jawa Tengah berkisar antara 16–35 derajat Celcius, dengan kelembaban 40–95 persen — rentang yang cukup lebar dan menciptakan perbedaan cuaca yang mencolok antar daerah.
Banjir Rob Kembali Menggenangi 8 Kabupaten/Kota di Pantura
Ancaman lain datang dari perairan utara. Air laut pasang atau rob kembali meningkat dengan ketinggian maksimum 0,9 meter pada pukul 05.00–09.00 WIB. Akibatnya, banjir kembali naik di kawasan pesisir delapan daerah di Pantura Jawa Tengah: Pekalongan, Batang, Kendal, Semarang, Demak, Jepara, Pati, dan Rembang.
“Meskipun cuaca di perairan umumnya cerah berawan dan berawan, banjir rob ini berpotensi mengganggu aktivitas warga seperti transportasi, bongkar muat barang di pelabuhan, budidaya perikanan darat, dan petani garam,” tambah Sediyanto.
BMKG Imbau Waspada Karhutla di Tengah Cuaca Panas Ekstrem
Di tengah potensi hujan lokal dan banjir rob, Winda Ratri juga mengingatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Suhu tinggi dan kelembaban rendah di sebagian besar wilayah membuat risiko kebakaran tetap tinggi, terutama di daerah yang tidak terkena hujan.
“Tetap waspada terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla),” tegasnya.
BMKG terus memantau perkembangan cuaca dan mengimbau masyarakat, khususnya nelayan dan pengguna jasa pelayaran, untuk selalu memperbarui informasi prakiraan cuaca sebelum beraktivitas di laut.