KEBUMEN — Puluhan siswa SMK Ma'arif 5 Gombong (SMK Maligo) yang tergabung dalam Pramuka tidak hanya belajar teori kepramukaan di sekolah. Mereka terjun langsung memungut limbah kulit buah dan sisa sayuran di pasar untuk diubah menjadi produk pertanian yang bermanfaat.
Pelatihan yang berlangsung di Kebun Rizky Mulyo Farm, Desa Tegalsari, Kecamatan Adimulyo itu dibimbing langsung oleh Pembina Pramuka SMK Maligo, Kak Rizky Fathur Rohman, yang sehari-hari mengembangkan pertanian organik mandiri.
Berburu Limbah Organik dari Apotek hingga Pasar Tradisional
Sejak pagi, para peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok. Sebagian bertugas mengumpulkan galon bekas dari Apotek Adimulyo, sementara kelompok lain berburu limbah organik berupa kulit nanas, kulit jeruk, dan sisa sayuran di kawasan Pasar Purwogondo, Kecamatan Kuwarasan.
Tanpa merasa canggung, para siswa memungut limbah yang masih layak dimanfaatkan. Seluruh bahan baku itu kemudian dipilah dan dibersihkan sebelum diolah menjadi pupuk dan cairan fermentasi.
Tiga Produk Organik yang Dipelajari Siswa
Dalam pelatihan tersebut, peserta dikenalkan dengan teknik pembuatan Jadam Liquid Fertilizer (JLF), pupuk organik cair berbahan dasar gulma, air, dan garam krosok yang berfungsi meningkatkan kesuburan tanaman. Mereka juga mempelajari pembuatan Jadam Microba Solution (JMS), larutan mikroba untuk memperbaiki kualitas tanah.
Selain itu, limbah kulit buah difermentasi menjadi Eco Enzyme. Cairan hasil fermentasi ini memiliki beragam manfaat, mulai dari pembenah tanah, penjernih air, hingga bahan pembersih yang ramah lingkungan.
Pengalaman Pertama Membuat Pupuk Secara Mandiri
Pradana Putra Ambalan SMK Maligo, Rafi Aziz Fadlurahman, mengaku antusias mengikuti kegiatan tersebut. Baginya, pelatihan ini memberikan pengalaman baru yang tidak pernah ia dapatkan di bangku kelas.
"Kegiatan ini sangat seru dan menyenangkan karena saya baru pertama kali merasakan langsung bagaimana proses membuat pupuk organik sendiri," ujarnya.
Menurut Rafi, pelatihan semacam ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga memotivasi anggota Pramuka untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Limbah organik yang selama ini dianggap tidak bernilai, ternyata bisa disulap menjadi produk yang berguna bagi pertanian.
Praktik Menanam Kangkung dan Kebersamaan
Kegiatan ditutup dengan praktik menanam bibit kangkung darat di area kebun serta makan bersama sebagai bentuk kebersamaan antaranggota. Melalui langkah sederhana ini, Pramuka SMK Maligo menunjukkan bahwa upaya mewujudkan ketahanan pangan bisa dimulai dari lingkungan terkecil, yakni dengan mengelola sampah organik menjadi sesuatu yang produktif.