JAWA TENGAH — Bagi pemain yang sudah menamatkan The Witcher 3: Wild Hunt, ikatan antara Geralt dan Dandelion memang sulit dipungkiri. Cockle menegaskan bahwa prioritas Geralt terhadap Dandelion seringkali melampaui kepentingan pribadinya, bahkan mengalahkan urusan asmara dengan Yennefer atau Triss.
"Menurutku ada benarnya soal hubungan Geralt dan Dandelion. Kapan pun Dandelion dalam masalah, Geralt akan menjatuhkan segalanya dan pergi menyelamatkannya," ujar Cockle. Meski enggan memakai istilah "bros before hoes" karena menurutnya kasar, aktor ini mengakui ada inti kebenaran dari konsep tersebut dalam dinamika kedua karakter.
Misi yang Membuktikan Prioritas Geralt
Klaim Cockle ini punya bukti konkret di dalam game. Pada quest utama babak pertama, "Poet Under Pressure", pemain harus melacak Dandelion yang ditahan Witch Hunter. Geralt tanpa ragu membunuh para pengejar dan membebaskan bardnya yang terikat di kursi dalam gubuk seorang halfling.
Kemudian ada momen di quest "Count Reuven's Treasure" yang lebih ekstrem. Geralt harus mengabaikan jeritan Triss yang sedang disiksa demi mendapatkan informasi tentang keberadaan Dandelion. Keputusan ini memang paling logis secara taktis, dan Triss sendiri dikenal mampu bertahan dari tekanan, namun tetap saja menunjukkan ke mana arah prioritas Geralt.
Bukan Kebahagiaan, Tapi Rasa Tanggung Jawab?
John Schwab, pengisi suara Dandelion, memberikan perspektif tambahan yang menarik. Ia menekankan bahwa kesediaan Geralt membantu bukan berarti sang witcher menikmati tugasnya. "Itu tidak berarti Geralt berseru 'Hore! Waktunya menyelamatkan Dandelion lagi'," kata Schwab.
Cockle pun setuju dengan rekan kerjanya itu. Ia membayangkan Geralt lebih sering menghela napas pasrah dengan ekspresi "ya ampun, dia ulangi lagi" setiap kali Dandelion datang membawa masalah baru. Jadi, daripada disebut cinta, mungkin lebih tepat disebut sebagai takdir yang tak Terelakkan—dua sahabat yang saling mengurus walau satu sama lain sering merepotkan.