JAWA TENGAH — Video itu direkam di sekitar kawasan Our Tampines Hub, Singapura. Pria di balik akun @withtawakkul menyebut suasana lingkungan sekitarnya cukup bagus, tapi tidak sebanding dengan biaya yang harus ia keluarkan. Ia bahkan menutup video dengan kalimat singkat: "Kirim saya pulang."
Dua Pengeluaran yang Jadi Pemicu
Dalam video berdurasi 51 detik tersebut, sang turis menyoroti dua pos biaya yang menurutnya paling mengagetkan. Pertama, satu porsi kentang goreng dari restoran cepat saji yang dibanderol SGD 4 atau sekitar Rp 55 ribu. Kedua, tarif Grab SGD 20 atau sekitar Rp 277 ribu untuk perjalanan yang hanya memakan waktu 10 menit.
Ia juga menyoroti sebuah mobil Mercedes-Benz yang melintas di persimpangan jalan, seolah menegaskan kesan kota yang berbiaya tinggi. Rekaman itu kemudian menyebar cepat setelah diunggah ulang oleh media Stomp dan dikutip Vietnam Express, Kamis (10/9/2026).
Warganet Terbelah: Mahal atau Kurang Riset?
Respons warganet terhadap video tersebut tidak seragam. Sebagian mengakui Singapura memang destinasi mahal, terutama bagi pelancong dengan anggaran terbatas. Namun banyak pula yang menilai sang turis kurang melakukan riset sebelum berkunjung.
"Apakah kamu tidak mencari tahu dulu sebelum datang? Singapura memang salah satu kota termahal di dunia," tulis salah satu warganet di kolom komentar.
Komentar lain lebih blunt: "Lain kali bawa uang lebih banyak." Ada pula yang menyoroti anggapan keliru bahwa seluruh Asia Tenggara otomatis menawarkan liburan murah.
"Saya lelah melihat turis datang ke sini dan mengira karena ini Asia Tenggara maka semuanya pasti murah," tulis warganet lain.
Sejumlah komentar menyarankan agar biaya hidup Singapura dibandingkan dengan kota-kota besar dunia seperti New York, Paris, atau London, bukan dengan negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.
Singapura Empat Tahun Berturut-turut Jadi Kota Termahal
Keluhan soal mahalnya Singapura bukan hal baru. Menurut Julius Baer Global Wealth and Lifestyle Report 2026, Singapura kembali dinobatkan sebagai kota termahal di dunia untuk gaya hidup mewah dan kalangan berpenghasilan tinggi selama empat tahun berturut-turut.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah wisatawan mengaku harus berhemat ekstrem selama berada di Singapura. Ada turis yang mengaku hanya makan sekali sehari demi menekan pengeluaran selama liburan.
Pelajaran untuk Traveler Indonesia
Bagi traveler Indonesia yang berencana ke Singapura, kasus ini jadi pengingat bahwa riset anggaran bukan opsional. Singapura bukan destinasi backpacker murah, meski jaraknya hanya sekitar 1,5 jam penerbangan dari Jakarta atau Batam.
Beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan: hitung ulang pos makan, transportasi, dan akomodasi sebelum berangkat; manfaatkan MRT dan bus alih-alih Grab untuk jarak pendek; serta pertimbangkan food court HDB atau hawker centre yang jauh lebih ramah kantong dibanding restoran di pusat perbelanjaan.
Untuk tarif transportasi dan harga kuliner terkini, traveler disarankan mengecek langsung aplikasi transportasi dan situs resmi merchant sebelum berangkat, karena harga bisa berubah mengikuti musim dan kebijakan setempat.
Singapura tetap layak dikunjungi, terutama untuk wisata keluarga dengan tema edukasi, taman hiburan, dan kuliner hawker yang diakui dunia. Kuncinya satu: datang dengan anggaran realistis dan ekspektasi yang sesuai. Liburan ke Singapura bukan soal murah atau mahal, tapi soal tahu ke mana uang akan dibelanjakan.