JAWA TENGAH — Pagi ini, rupiah dibuka di level Rp17.489 per dolar AS, sudah melemah 75 poin dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Tekanan terhadap rupiah tidak berdiri sendiri. Sejumlah mata uang kawasan Asia juga kompak terpuruk. Won Korea Selatan menjadi yang terparah dengan anjlok 1 persen, disusul peso Filipina yang turun 0,50 persen. Ringgit Malaysia melemah 0,22 persen, yen Jepang dan dolar Singapura masing-masing terkoreksi 0,22 persen dan 0,20 persen. Sementara itu, yuan China hanya melemah tipis 0,01 persen.
Di negara maju, euro dan poundsterling juga tidak berdaya. Euro Eropa turun 0,17 persen, sementara poundsterling Inggris melemah 0,18 persen terhadap greenback. Dolar Australia dan dolar Kanada ikut terkoreksi masing-masing 0,24 persen dan 0,10 persen.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengidentifikasi setidaknya tiga faktor utama yang membuat rupiah terus tertekan. Pertama, meredupnya harapan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran kembali memicu ketidakpastian geopolitik. Investor cenderung menghindari aset berisiko dan kembali memegang dolar AS sebagai safe haven.
Kedua, harga minyak mentah dunia yang masih bertahan di level tinggi menjadi beban tambahan bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia. Biaya impor energi yang membengkak memperburuk prospek neraca perdagangan dan menekan nilai tukar.
"Pengumuman MSCI hari ini diperkirakan tidak akan memberikan berita baik pada IHSG, dan akan ikut menekan rupiah," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com. Sentimen ketiga ini menjadi kekhawatiran tersendiri karena hasil evaluasi MSCI dapat memicu arus keluar modal asing dari pasar saham Indonesia.
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.350 hingga Rp17.500 per dolar AS sepanjang hari ini. Artinya, level Rp17.500 yang sudah ditembus pagi ini berpotensi menjadi resistance terdekat.
Pelaku pasar juga masih menantikan rilis data penjualan ritel Indonesia yang dijadwalkan siang ini. Data tersebut akan menjadi indikator terbaru kekuatan konsumsi domestik di tengah tekanan nilai tukar. Jika hasilnya di bawah ekspektasi, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut.
Investasi mengandung risiko.