DEMAK — Puluhan peserta mengenakan beskap warna-warni dan atribut tradisional lengkap memadati Kafe Boss’e, Kabupaten Demak, belum lama ini. Mereka adalah anggota Paguyuban Pemerhati Budaya Jawa Rejo Budoyo yang menggelar reuni akbar tahunan.
Acara diawali dengan kirab Bregada I hingga XII yang menambah semarak suasana. Prosesi ini menjadi pembuka sebelum rangkaian temu kangen dimulai.
Ketua Paguyuban Rejo Budoyo, Marsono, mengungkapkan bahwa sejak berdiri pada 2010, paguyuban ini telah mewisuda sekitar 350 anggota. Mereka tidak hanya berasal dari Demak, tetapi juga Kota Semarang, Grobogan, Kudus, Pati, hingga Jepara.
"Semboyannya yaiku siji wadah ojo nganti bubrah seduluran salawase. Jadi meskipun profesinya berbeda-beda, kami tetap satu keluarga dan tetap menjaga budaya Jawa," ujar Marsono.
Mayoritas alumni Rejo Budoyo kini aktif menjadi pranatacara atau pembawa acara adat Jawa di berbagai kegiatan masyarakat. Mulai dari resepsi pernikahan, prosesi adat, hingga acara budaya lainnya.
Pendiri Dwijo Panuntun Rejo Budoyo, Hardo Supriyadi, menjelaskan bahwa komunitas ini awalnya dibentuk untuk mewadahi para peserta pelatihan pranatacara. Tujuannya agar mereka tetap bisa berkumpul dan menjaga persaudaraan meski sudah lulus.
"Kalau bukan kita yang menjaga budaya Jawa, lalu siapa lagi? Harapannya ini bisa terus berjalan dari generasi ke generasi," katanya.
Hardo menambahkan, antusiasme masyarakat terhadap budaya Jawa terus meningkat. Bahkan, peserta dari luar Kabupaten Demak kini semakin banyak mengikuti pelatihan maupun kegiatan budaya yang diselenggarakan Rejo Budoyo.
Salah satu alumni angkatan VIII, Sodikin, mengaku bangga menjadi bagian dari paguyuban ini. Menurutnya, Rejo Budoyo tidak hanya mengajarkan tata cara berbicara dalam adat Jawa, tetapi juga menanamkan nilai sopan santun, kebersamaan, dan penghormatan kepada budaya leluhur.
"Saya merasa mendapat keluarga baru di sini. Budaya Jawa harus terus dijaga karena menjadi identitas dan warisan yang sangat berharga bagi generasi mendatang," ungkapnya.
Marsono berharap paguyuban tersebut mampu terus berkembang dan menjadi ruang belajar budaya Jawa bagi generasi muda. Ia menilai pelestarian budaya tidak boleh berhenti hanya pada seremoni, tetapi harus diwariskan secara berkelanjutan.
Dengan jumlah alumni yang terus bertambah dan jangkauan yang meluas ke berbagai kota di Jawa Tengah, Rejo Budoyo menjadi salah satu komunitas yang aktif menjaga tradisi pranatacara dan pamedharsabda Jawa di wilayah tersebut.