SEMARANG — PT TASPEN (Persero) Kantor Cabang Semarang mengeluarkan imbauan darurat bagi para pensiunan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Jawa Tengah. Langkah ini menyusul maraknya modus penipuan digital yang secara spesifik mengincar kelompok pensiunan dengan mengatasnamakan perusahaan.
Para pelaku disebut aktif menghubungi korban melalui sambungan telepon maupun pesan singkat. Mereka mengaku sebagai petugas resmi TASPEN dan menawarkan berbagai program fiktif, seperti pencairan dana pensiun tambahan atau perbaikan data peserta.
Praktik ini jelas mengancam keamanan data pribadi dan keuangan para pensiunan. Banyak korban yang sudah lanjut usia dan kurang familier dengan teknologi digital menjadi sasaran empuk.
Pihak TASPEN Kantor Cabang Semarang menegaskan bahwa seluruh proses administrasi kepesertaan tidak pernah dilakukan melalui telepon atau pesan pribadi. Peserta diminta untuk tidak memberikan nomor rekening, PIN, password, atau kode OTP kepada siapa pun yang mengaku dari TASPEN.
“Kami mengimbau seluruh peserta untuk tidak mudah percaya dengan telepon atau pesan yang mengatasnamakan TASPEN. Segera laporkan jika menerima komunikasi mencurigakan,” demikian pernyataan resmi dari PT TASPEN (Persero) Kantor Cabang Semarang.
Jika ragu, para pensiunan ASN diminta melakukan verifikasi secara mandiri. TASPEN menyediakan layanan informasi resmi melalui kantor cabang terdekat, call center, dan aplikasi resmi TASPEN yang terunduh di ponsel.
Masyarakat juga diingatkan untuk segera memblokir nomor pelaku dan melaporkan kejadian ke pihak berwajib atau ke kanal pengaduan resmi TASPEN. Semakin cepat dilaporkan, semakin kecil risiko kerugian yang menjalar.
Jawa Tengah menjadi salah satu provinsi dengan jumlah pensiunan ASN yang signifikan. Hal ini menjadikan wilayah tersebut rawan terhadap aksi penipuan digital terstruktur. TASPEN berkomitmen untuk terus mengedukasi peserta dan memperkuat sistem keamanan data internal.
Ke depan, pihaknya akan menggencarkan sosialisasi literasi digital kepada para pensiunan di berbagai kota di Jawa Tengah, termasuk Semarang, Solo, dan Purwokerto. Tujuannya agar para peserta lebih tangguh menghadapi modus kejahatan siber yang kian variatif.