JAWA TENGAH — Harga perak dunia ikut menguat hampir 1 persen dalam sepekan terakhir. Mengacu data Trading Economics, harga perak global bertambah 0,73 persen ke posisi US$ 55,90 per ons troi. Namun, sepanjang pekan ini harga perak masih bergerak fluktuatif di kisaran US$ 55,5 per ons—level terendah sejak akhir November 2025.
Pemicu utama gejolak ini adalah eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran. Iran baru saja melancarkan serangan baru ke fasilitas AS di Timur Tengah, sementara AS terus menggempur target-target militer Iran selama enam malam berturut-turut. Situasi ini mengganggu jalur pengiriman minyak melalui Selat Hormuz dan memicu lonjakan harga minyak hingga 12 persen dalam sepekan.
Kenaikan Harga Minyak Tekan Suku Bunga
Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi baru. Para pelaku pasar kini khawatir The Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi lebih lama—atau bahkan menaikkannya lagi. Presiden Federal Reserve Dallas, Lorie Logan, secara terbuka menyerukan kenaikan suku bunga. Wakil Ketua Fed, Philip Jefferson, juga menyatakan akan mendukung kebijakan yang lebih ketat jika inflasi tak kunjung membaik dalam waktu dekat.
Probabilitas kenaikan suku bunga pada September kini diperkirakan sekitar 50 persen. Sementara itu, data inflasi AS Juni menunjukkan harga konsumen dan produsen sama-sama turun, terutama karena biaya energi yang lebih rendah. Namun, harga impor justru naik tak terduga.
Emas Dunia Bangkit Setelah Terjun Bebas
Harga emas dunia sempat mengalami koreksi mingguan terbesar dalam enam pekan terakhir pada Jumat (17/7/2026). Namun, harga emas spot bangkit 1,1 persen ke US$ 4.015,09 per ons pada Sabtu pagi. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus juga naik 0,7 persen ke US$ 4.018,80.
“Emas mulai bergerak naik hari ini setelah harga logam tersebut turun di bawah US$ 4.000, yang menarik minat pembeli,” ujar Tim Waterer, Chief Market Analyst KCM Trade. Ia menambahkan, risiko geopolitik di Timur Tengah masih membayangi, namun kekhawatiran inflasi dan imbal hasil menjadi kekuatan dominan yang menahan harga emas.
Di pasar fisik, diskon emas di India melebar ke level tertinggi dalam satu bulan karena pembeli menunggu harga lebih rendah. Sementara itu, premi emas di China terbilang stabil.