JAWA TENGAH — Koreksi harga logam mulia di outlet Pegadaian terjadi secara serentak untuk merek Antam, UBS, maupun Galeri24. Penurunan harga eceran di dalam negeri ini merefleksikan dinamika pasar spot global yang sebelumnya sempat tertekan sebelum akhirnya berbalik arah.
Emas produksi UBS mencatat penurunan paling dalam pada perdagangan hari ini. Harga emas UBS merosot Rp 48.000 menjadi Rp 2.797.000 per gram, dari posisi hari sebelumnya yang berada di angka Rp 2.845.000 per gram.
Sementara itu, emas cetakan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) di Pegadaian menyusut Rp 25.000 menjadi Rp 2.862.000 per gram. Anak usaha Pegadaian, Galeri24, juga ikut mengoreksi harga produknya sebesar Rp 26.000, sehingga kini berada di level Rp 2.756.000 per gram.
Pegadaian menyediakan berbagai varian ukuran untuk memenuhi kebutuhan investasi masyarakat. Emas Galeri24 tersedia mulai dari pecahan 0,5 gram hingga 1.000 gram, emas UBS dari 0,5 gram hingga 500 gram, sedangkan emas Antam di jaringan Sahabat Pegadaian ditawarkan dalam rentang 0,5 gram hingga 100 gram.
Berikut rincian harga pecahan emas batangan di Pegadaian untuk memudahkan perencanaan investasi Anda:
Penurunan harga retail di Indonesia ini terjadi saat harga emas dunia justru mulai merangkak naik. Pada penutupan perdagangan Rabu (20/5/2026), harga emas di pasar spot menguat 1 persen ke level USD 4.532,72 per troy ounce (setara Rp 72,52 juta), setelah sempat menyentuh level terendah dalam tujuh pekan terakhir.
Kenaikan harga emas global dipicu oleh meredanya kekhawatiran inflasi seiring adanya harapan resolusi konflik di Iran yang sempat menekan pasar minyak. Dampak positifnya, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor 10 tahun mulai melandai dari level tertingginya sejak Januari 2025.
"Kita telah melihat jeda dari peningkatan imbal hasil yang berkelanjutan. Akibatnya, kita telah melihat harga emas menguat dari titik terendah baru-baru ini," ujar Direktur Perdagangan High Ridge Futures.
Meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya potensi pembukaan kembali Selat Hormuz, memberikan sentimen positif bagi pasar modal dan komoditas. Investor kini juga mencermati langkah bank sentral AS, The Fed. Berdasarkan data CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan probabilitas sebesar 89,6 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan Juni 2026, yang berpotensi menjaga daya tarik emas sebagai aset pelindung nilai (safe haven).