SEMARANG — Pemprov Jawa Tengah tak hanya mengandalkan destinasi alam dan budaya untuk menarik turis asing. Kini, mereka menyiapkan strategi baru dengan menggenjot sektor wisata ramah Muslim, sebuah segmen pasar global yang terus tumbuh.
Langkah ini menjadi salah satu prioritas untuk mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang sempat terpuruk akibat pandemi. Data dari Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Tengah menunjukkan tren pemulihan yang positif, namun angka kunjungan masih jauh dari potensi maksimal.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, Agus Hariyanto, mengungkapkan bahwa pihaknya akan mendorong destinasi wisata dan pelaku usaha untuk memenuhi standar ramah Muslim. Beberapa aspek yang menjadi fokus utama antara lain penyediaan fasilitas ibadah yang memadai, makanan dan minuman bersertifikat halal, serta informasi wisata yang ramah bagi wisatawan Muslim.
"Kami ingin memastikan bahwa wisatawan Muslim dari berbagai negara merasa nyaman dan aman saat berwisata di Jawa Tengah. Ini bukan hanya tentang menyediakan tempat salat, tetapi juga memastikan seluruh rantai layanan, mulai dari hotel, restoran, hingga pusat oleh-oleh, memiliki sertifikasi halal," ujar Agus dalam keterangan resmi yang diterima, Senin lalu.
Pemprov Jateng menargetkan peningkatan jumlah kunjungan wisman hingga 15 persen pada tahun depan. Untuk mencapai target tersebut, strategi pemasaran akan difokuskan pada negara-negara dengan populasi Muslim besar seperti Malaysia, Timur Tengah, dan beberapa negara di Asia Selatan.
Selain itu, Pemprov juga akan berkolaborasi dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk mengikuti pameran pariwisata internasional serta mengundang para agen perjalanan dan travel blogger untuk melakukan familiarization trip ke Jawa Tengah. Langkah ini diharapkan mampu mempromosikan secara langsung keunggulan wisata ramah Muslim yang ditawarkan.
Tidak semua destinasi akan langsung disulap. Pemprov Jateng akan memulai program ini dari beberapa destinasi unggulan yang sudah memiliki infrastruktur dasar yang baik. Kawasan Candi Prambanan, kawasan pecinan di Semarang, hingga destinasi alam di Dieng dan Karimunjawa masuk dalam daftar prioritas awal.
Di setiap destinasi prioritas, Pemprov akan memastikan ketersediaan musala yang bersih, restoran dengan menu halal bersertifikat, serta tour guide yang memahami kebutuhan wisatawan Muslim. Proses sertifikasi halal untuk hotel dan restoran di kawasan tersebut akan dipercepat dengan menggandeng Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah.
Pemprov Jawa Tengah menargetkan program wisata ramah Muslim ini mulai berjalan efektif pada kuartal pertama tahun depan. Saat ini, tim teknis dari Dinas Pariwisata sedang melakukan pendataan dan sosialisasi kepada para pelaku usaha pariwisata di 35 kabupaten/kota.
"Kami tidak ingin terburu-buru. Yang terpenting adalah kualitas layanan. Jika standar sudah terpenuhi, barulah kami gencarkan promosi," pungkas Agus. Langkah ini diyakini tidak hanya akan menarik lebih banyak wisman, tetapi juga meningkatkan kualitas pelayanan bagi wisatawan domestik.